"Saya agak terharu karena saya berpikir, saya bisa begini karena prajurit-prajurit yang sudah pergi. Saya pikir, perjalanan itu berlalu begitu cepat," ujarnya di Markas Komando Pasukan Khusus, Cijantung, Jakarta, Senin (7/12).
Saat Satgas Nanggala V diterjunkan ke Dili, Luhut masih berpangkat letnan satu dengan nomor registrasi pusat 23291. Kala itu, Luhut berstatus sebagai komandan kompi A.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Letnan Jenderal (Purnawirawan) Sugito yang saat itu berstatus Komandan Satgas Nanggala V, ia menerima perintah untuk memimpin penyerangan ke Dili melalui sebuah operasi lintas udara.
"Dalam persiapan, kami selalu dapat petunjuk dan pengarahan dari intel hankam (staf intelijen pertahanan dan keamanan)," ujar Sugito.
Namun, tidak sedikit informasi intelijen yang Sugito dapatkan ternyata tidak tepat. Sungai Komoro yang berada di bagian barat Dili, misalnya, disebut selalu banjir dan dihuni banyak buaya dan bintang berbisa.
"Kenyataannya sungai itu kering dan tidak ada apa-apanya," ucapnya.
Perintah penerjunan mendadak dan informasi intelijen yang keliru mengakibatkan Satgas Nanggala V mendapatkan banyak kerugian. Sugito mengatakan, 13 prajurit gugur dan lima prajurit hilang karena tercebur ke laut.
Penerjunan tanggal 7 Desember 1975 dini hari itu juga mengakibatkan luka berat bagi sejumlah prajurit. Dua tangan Letnan Kolonel Atang Sanjaya, ketika itu menjabat Komandan Kompi C dengan pangkat kapten, tertembak oleh personel pertahanan Timor Portugis. (utd)