Dewi Astuti selaku Advocacy Officer dari jaringan Indonesia ACT, sebuah payung dari 15 organisasi non pemerintah bergerak di bidang anti perdagangan anak, mengatakan kasus perdagangan anak di NTB dan NTT melibatkan anak-anak dari usia 11 tahun hingga 18 tahun.
"Kita tahu kalau NTT salah satu wilayah provinsi pengirim terbesar bukan hanya buruh migran tetapi juga trafficking. Sementara di NTB kami banyak temukan kasus penjualan anak untuk eksploitasi seksual," kata Dewi saat dihubungi CNN Indonesia, Senin (14/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dewi mengatakan tingginya angka korban perdagangan anak di kedua wilayah tersebut adalah karena rendahnya pendidikan serta tingginya iming-iming bayaran saat disalurkan menjadi pekerja.
Selain agen, Dewi mengatakan keluarga terdekat juga bisa menjadi oknum pelaku perdagangan anak.
"Dalam beberapa kasus yang kami temukan di NTT, ada anggota keluarga yang membawa si anak dengan mendatangi agen-agen ilegal," ujar Dewi.
Sementara itu, Lembaga Jaringan Penanggulangan Pekerja Anak (JARAK) menyebutkan pola-pola tindak kejahatan perdagangan anak berubah saat ini. Jika dahulu, kemiskinan, keterbelakangan pendidikan dan kawin muda menjadi pintu masuk perdagangan anak, kini adalah teknologi.
"Hal ini bisa berbentuk prostitusi, pornografi atau isu-isu perdagangan anak lainnya. Kami ingin semua pihak untuk bekerjakeras lagi terutama tidak terhenti pada aspek regulasi saja," kata Achmad saat dihubungi CNN Indonesia, Senin (14/12).
Achmad mengatakan pemerintah sudah memiliki cukup undang-undang untuk mencegah adanya praktik tindak pidana perdagangan anak. Namun, dia menilai selama ini implementasi masih menjadi kelemahan pemerintah.
"Salah satunya adalah kita belum memiliki sistem rehabilitasi terintegrasi bagi korban perdagangan anak. Selama ini pemerintah hanya punya pusat aduan, yang kemudian merujuk untuk rehab di tempat lain," ujar Achmad.
Lebih jauh, selain persoalan ancaman dari teknologi, Achmad juga melihat masih banyaknya pekerja anak menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk meminimalisir adanya tindak pidana perdagangan anak.
"Kalau melihat prosentase anak yang duduk di bangku sekolah sebesar 60 persenan, ada sekitar 30 persenan yang pasti bekerja. Jumlah ini tersebar merata di seluruh Indonesia," kata Achmad. (utd)