Hasto mengatakan, proses PAW yang belum tuntas hingga akhir tahun 2015, karena pengganti Puan sebelumnya yakni Deputi I Kantor Staf Presiden, Darmawan Prasodjo tidak menghendaki posisi tersebut. Sehingga, proses pengunduran Darmawan juga membutuhkan waktu dan saat ini tengah diproses.
"Semua sudah berproses. Darmawan Prasodjo juga sedang mengundurkan diri dari haknya sebagai pengganti Puan. Digantikan dengan nama dibawahnya Darmawan," ujar Hasto di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Senin (4/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"KPU sudah lakukan konfirmasi bahwa Darmawan sudah mundur dan tak gunakan haknya. Plt Ketua DPR Fadli Zon juga sudah menerimanya dan juga sudah dibawa ke Presiden," ucap Hasto.
"Iya (akan diumumkan usai reses). Proses Puan akan bersamaan dengan pengganti Tjahjo Kumolo dan Pramono Anung. Ini cuma proses keterlambatan kelengkapan administrasi," ujar Hasto.
Sebelumnya, Deputi I Bidang Monitoring dan Evaluasi Kantor Staf Presiden (KSP) Darmawan Prasodjo ditunjuk untuk menggantikan Puan Maharani di kursi legislatif. Menanggapi hal itu, dia mengungkapkan bahwa Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menginginkan kadernya memiliki kemampuan teknokratik.
Pria yang akrab disapa Darmo ini mengaku telah berdiskusi dengan Megawati. Dalam diskusi itu, tutur dia, Mega mengutarakan keinginannya agar para kader partai banteng, terutama yang memiliki kemampuan teknokratik, dapat mendukung penuh Presiden Jokowi.
"Ibu Ketum ingin para kader punya kemampuan teknokratik untuk mendukung penuh Presiden menjalankan tugas sebaik-baiknya dalam memimpin secara efektif dan efisien," ujar Darmo di Bina Graha, Jakarta Pusat, Jumat (25/9). (pit)