Tentang Bahrun Naim yang Diduga Sosok Pengendali

Sandy Indra Pratama, CNN Indonesia | Kamis, 14/01/2016 19:18 WIB
Tentang Bahrun Naim yang Diduga Sosok Pengendali Petugas kepolisian mengamankan sebuah mobil yang dicurigai digunakan pelaku penyerangan yang dilakukan sejumlah teroris ke beberapa gedung dan pos polisi di Jakarta, Kamis, 14 Januari 2016. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bahrun Naim bukan nama baru. Berdasarkan catatan dan informasi yang dimiliki CNNIndonesia.com, Bahrun sempat tercatat bergabung dengan Jamaah Anshorut Tauhid. Itu terjadi sekitar September 2008.

Namun ada yang lain dengan sosok kelahiran Pekalongan, 6 September 1983 ini. Sebab beragam informasi menyebutkan ia adalah bagian dari jaringan atau terafiliasi dengan Abdullah Sunata, lelaki kelahiran Jakarta yang ditangkap Detasemen Khusus 88 di Klaten Jawa Tengah, 2011. Saat itu dia diduga ikut mnyembunyikan buronan Noordin M Top serta terlibat dalam beberapa aktivitas teror.

Sumber CNNIndonesia.com mengatakan, Bahrun Naim berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pada 2014. Awalnya ia bergabung dalam sebuah kelompok pendukung ISIS di Solo.


Bahrun memiliki nama lengkap Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo. Dalam kelompoknya dulu, menurut sumber CNNIndonesia.com, ia memiliki nama panggilan Nai’m atau Abu Rayyan atau Abu Aisyah.

Orang yang diduga kepolisian sebagai pengendali aksi teror di kawasan MH Thamrin, Jakarta hari ini, Kamis (14/1) itu, menurut sumber CNNIndonesia.com, merupakan lulusan Teknik Informatika Univeritas Negeri Solo. Tak heran, lanjut si sumber, ia tercatat pernah bekerja di sebuah warung internet sebagai teknisi komputer.

“Sebagai sambilan ia berjualan pernak pernik bernafaskan agama,” katanya.

Petang tadi, nama Bahrun disebut oleh Kepala Kepolisian Daerah Metro DKI Jakarta Inspektur Jenderal Tito Karnavian. Sebagai satu nama yang diyakini sebagai otak dari serangan mematikan di pusat Jakarta.

Penguatan lain dilontarkan Wakil Kepala Kepolisian Komisaris Jenderal Budi Gunawan. Menurut Budi, pihaknya sudah mendeteksi ada komunikasi kelompok Suriah dan kelompok Solo yang dipimpin Abu Jundi. Kelompok ini katanya sudah membuat persiapan dengan anak-anak sel untuk melakukan serangkaian peledakan bom.

“Yang seharusnya dimainkan pada malam Tahun Baru. Tapi karena kita bisa antisipasi, kami bisa tangkap lebih dulu,” kata dia.

Kamis menjelang siang, sebuah rentetan serangan berupa ledakan dan tembakan meletus di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Puluhan orang menjadi korban, dan dua di antaranya meninggal. Lima orang pelaku tewas di tempat. (rdk)