Sekretaris Kabinet Pramono Anung menjelaskan, wacana tersebut muncul dari pengalaman terjadinya teror pengeboman dan penembakan di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, beberapa hari lalu.
Ia bercerita, sebenarnya sejak November 2015 lalu aparat keamanan telah mendeteksi adanya aktivitas di luar kewajaran yang berkaitan dengan tindakan teror. Namun, ucapnya, UU Nomor 15 Tahun 2003, sebagai bagian dari persetujuan Perppu Nomor 1 Tahun 2002, itu menyebutkan bagian-bagian yang tidak mendukung pemerintah untuk bisa melakukan tindakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apalagi Indonesia sudah menjadi negara yang mempunyai demokrasi, tentunya kita tetap menghormati hak asasi manusia, tetapi keamanan dan kenyamanan itu menjadi penting," katanya.
"Diubah beberapa poin. Intinya saya tidak terlalu hapal, termasuk kewenangan penangkapan, penahanan sampai waktu tertentu bila diperlukan keterangan-keterangan. Dengan demikian kita bisa lebih mencegah kemungkinan hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menuturkan, masalah utama pemerintahan Presiden Jokowi adalah pada bagaimana ada keterpaduan antara pemerintah, khususnya aparat, dengan masyarakat, terutama para tokoh agama untuk bisa mendeteksi dini, menangkal, dan melawan segala bentuk kelompok maupun individu yang memiliki paham lain terhadap Pancasila, apalagi sekte-sekte yang berkaitan dengan radikalisme dan teror.
"Yang disampaikan Kepala BIN kan lembaganya terhalang oleh Undang-Undang. Menkopolhukam sudah pernah kita bahas, pada prinsipnya menyetujui segera ada usul inisiatif dari DPR, satu atau dua poin itu agar diubah, sehingga BIN sebagai lembaga intelijen yang bertugas mengkoordinasi lembaga-lembaga intelijen, juga bisa lebih proaktif," katanya. (bag)