SGRC UI Tegaskan Diri Grup Konseling, Bukan Komunitas LGBT

Gilang Fauzi, CNN Indonesia | Senin, 25/01/2016 11:23 WIB
SGRC UI Tegaskan Diri Grup Konseling, Bukan Komunitas LGBT Buruh LGBT yang tergabung dalam organisasi Pelangi Mahardika saat ikut aksi damai di depan Istana Merdeka, Jakarta, Jumat 1 Mei 2015. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok jasa konseling Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di kampus Universitas Indonesia menyatakan organisasinya bukan komunitas atau tempat berkumpul kalangan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Co-founder SGRC UI, Firmansyah, menegaskan kelompok yang turut dia dirikan itu merupakan organisasi yang bergerak dalam lingkup kajian seksualitas, reproduksi, dan orientasi seksual. Oleh sebab itu Firmansyah menolak bila organisasinya didefinisikan sebagai komunitas LGBT.

"Saya, Firmansyah, salah satu dari beberapa orang yang terlibat dalam pendirian SGRC UI, menolak jika lingkup kajian organisasi kami dikerdilkan sedemikian rupa," ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/1).
Firmansyah mengamini organisasinya menjalin kerja sama dengan Melela.org, sebuah situs yang dibangun sebagai wadah bagi insan LGBT untuk berbagi cerita sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap kelompok minoritas LGBT di Indonesia.


Namun, tegas Firmansyah, keputusan SGRC UI untuk bekerja sama dengan Melela.org dalam membuat LGBT Peer Support Network bukan dibuat tanpa pertimbangan matang.

"Kami sadar akan risiko tinggi dari kegiatan tersebut, terbukti dengan ramainya media menyoroti organisasi kami akhir-akhir ini," ujar Firman.

Alasan SGRC UI membuat LGBT Peer Support Network, kata Firmansyah, didasari oleh temuan fakta bahwa remaja LGBT di Indonesia rentan bunuh diri akibat penolakan dan diskriminasi dalam masyarakat.

Pada sejumlah penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional, Firmansyah mencatat remaja LGBT yang mendapat penolakan keluarga pada masa remaja 8,4 kali lebih rentan bunuh diri, 5,9 kali lebih rentan mengalami depresi, dan 3,4 kali lebih mungkin menggunakan narkotik dibanding mereka yang tidak ditolak oleh keluarga.

"Untuk menghindari risiko bunuh diri, depresi, dan penggunaan narkoba, remaja LGBT membutuhkan dukungan dari banyak pihak," kata Firmansyah.
(gil/agk)