Andi menyebut, Bendung Katulampa hanyalah bendungan yang digunakan sebagai pemantau debit air yang masuk ke Jakarta. Hal itu dia jelaskan setelah beberapa kali masyarakat menyebut ketinggian air yang merangsek masuk ke sungai di Ibu Kota disebabkan karena pintu bendungan ditutup.
“Katulampa itu bukan pengendali banjir. Hanya memonitor saja. Fungsi awalnya untuk menyalurkan air ke saluran irigasi yang mengairi kawasan sawah di Bogor dan Jakarta,” kata Andi saat bertemu dengan CNNIndonesia.com, Rabu (13/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petugas memantau ketinggian air bendung Katulampa yang terletak di kelurahan Katulampa Bogor, Rabu, 13 Januari 2016. Pada saat musim hujan, bendung ini bisa dilewati air dengan rekor debit 630 ribu liter air per detik atau ketinggian 250 centimeter yang pernah terjadi pada tahun 1996, 2002, 2007, dan 2010. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
“Di sini tidak ada buka-tutup air.Kalau debit air besar, yang pertama itu harus diamankan adalah saluran air irigasi. Itu yang ditutup, bukan bendungan. Setelah tutup Irigasi, baru dapat terlihat berapa ketinggian limpas air di bendungan,” kata Hadi.
Dia menjelaskan, buka-tutup pintu air irigasi harus dilakukan karena lebar saluran irigasi yang jauh lebih kecil dari Bendungan Katulampa. Tidak hanya itu, jalur irigasi yang melintas di kota Bogor juga berdekatan dengan permukiman penduduk.
“Kalau itu tidak ditutup, warga di sepanjang jalur irigasi pasti terkena banjir,” ujarnya.
Lebih lanjut, Andi menjelaskan, pos penjagaannya akan mengeluarkan status waspada dan siaga jika hujan lebat turun di seluruh wilayah Puncak. Tak hanya itu, intensitas hujan yang tinggi yang terjadi hingga tiga jam juga akan membuat aliran Katulampa membludak.
“Dan kalau hujan dari pagi sampai pagi itu yang harus lebih dikhawatirkan,” kata Andi.
Meski keduanya menilai musim penghujan kali ini terbilang mundur dari biasanya, diakui bahwa penjagaan pos terus dilakukan. Catatan mengenai limpas dan debit air harus tetap dilaporkan ke Pos Pengelolaan Sumber Daya Air di Bogor dan Jakarta.
“Kalau kami ya tetap siaga. Mau musim kering ataupun penghujan. Tugas kami memantau, mencatat dan melaporkan,” kata Hadi.
Proses laporan itu, dikatakan Hadi, dimulai ketika awan sudah terlihat mulai menebal di wilayah hulu yakni Kabupaten Bogor atau Puncak. Penjaga di Bendung Katulampa, sebagai tempat pertemuan 13 anak sungai pun memastikan kesiagaannya tiap langit sudah mendung.
“Kalau awan sudah tebal kami biasanya terima informasi dari atas. Ketika hujan mulai turun, kami catat pukul berapa dan berhenti pukul berapa. Kalau hujan di atas (Puncak) sudah lebih dari satu jam, Jakarta harus sudah berhati-hati,” ujarnya.
(meg/rdk)
Petugas memantau ketinggian air bendung Katulampa yang terletak di kelurahan Katulampa Bogor, Rabu, 13 Januari 2016. Pada saat musim hujan, bendung ini bisa dilewati air dengan rekor debit 630 ribu liter air per detik atau ketinggian 250 centimeter yang pernah terjadi pada tahun 1996, 2002, 2007, dan 2010. (CNN Indonesia/Safir Makki)