LIPUTAN KHUSUS

Lelaki Indonesia di Freemasonry, Raden Saleh hingga Kapolri

Abraham Utama, CNN Indonesia | Kamis, 04/02/2016 12:47 WIB
Lelaki Indonesia di Freemasonry, Raden Saleh hingga Kapolri Pada tanggal 7 April 1955 lahirlah Tarekat Mason Indonesia. Upacara persemian pengurus baru, para pengurus mengenakan seragam kemasonan. (Dok Theo Stevens)
Jakarta, CNN Indonesia -- “Tidak begitu banyak yang diketahui tentang apa yang terjadi selama Raden Saleh di Negeri Belanda antara 1830 dan 1839.”

Kalimat tersebut merupakan cukilan buku Di Negeri Penjajah, Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600 – 1950 karya Harry Poeze, seorang peneliti Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies.

Mengutip penelitian arsip yang dilakukan De Loos-Haaxman, Poeze menulis, Raden Saleh memperoleh kesempatan langka untuk melukis potret sejumlah pejabat militer Kerajaan Belanda yang kelak akan memberikan pengaruh besar pada kehidupan di Hindia Belanda. Dua di antaranya adalah Herman Willem Daendels dan Johannes van Den Bosch.

Poeze juga mencatat, Raden Saleh, seorang pria Jawa, dengan cepat diterima oleh golongan elite di Eropa. Ia bergaul erat dengan petinggi-petinggi kerajaan Belanda bahkan menerima anugerah Bintang Eikenkroon.
Makam Raden Saleh di Jalan Pahlawan, Gang Raden Saleh, Bogor, Rabu, 13 Januari 2016. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Minimnya catatan Poeze tentang perjalanan Raden Saleh selama periode 1830 hingga 1839 dilengkapi Theo Stevens melalui buku klasiknya yang berjudul Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda 1764 – 1962.

Stenvens menulis, pada 1836 Raden Saleh dilantik menjadi anggota Tarekat Kemasonan di Loji Bersatu Kita Kuat (Eendracht Maakt Macht ) yang berada di Den Haag, Belanda. Peristiwa tersebut, menurut Stevens, menjadikan Raden Saleh sebagai warga asli Hindia Belanda pertama yang menjadi anggota kelompok persaudaraan Kemasonan.

Jejak langkah Raden Saleh sebagai pria asli Hindia Belanda di Tarekat Kemasonan diikuti Abdul Rahman, seorang keturunan Sultan Pontianak. Stevens berkata, Abdul dilantik menjadi seorang mason pada tahun 1844 di Loji De Vriendschap, di sebuah kawasan yang kini disebut Surabaya.
Stevens juga menggarisbawahi jejak empat pria mason asli Hindia Belanda lain. Keempatnya berasal dari Kesultanan Pakualaman. Pangeran Ario Soeryodilogo tercatat menjadi anggota Loji Mataram pada tahun 1871. Tak lama usai pelantikan itu, Soeryodilogo naik tahta menjadi Paku Alam V.

Langkah Ario bergabung ke Tarekat Kemasonan, menurut catatan Stevens, diikuti para keturunannya. Mereka adalah Pangeran Adipati Ario Notokusuma (Paku Alam VI), Pangeran Ario Notodirejo (Paku Alam VII) serta Pangeran Ario Kusumo Yudo.

Meski tidak menjadi pemimpin Pakualaman, Ario Kusumo sempat terdaftar sebagai anggota Raad van Indie atau Dewan Hindia. “Foto-foto tokoh terkemuka itu dimuat pada Buku Peringatan 1767-1971,” tulis Stevens.

Kepada CNN Indonesia, pengamat Kemasonan, Sam Ardi, mengatakan ketika itu para pria di Keraton Pakualaman memiliki status sosial yang tinggi dibandingkan warga pribumi lain. Sebagai penguasa, Paku Alam V dan penerus-penerusnya juga mempunyai akses langsung dengan warga Belanda, baik pejabat, ilmuwan maupun saudagar.

Sam juga menyebut keterlibatan aktif Bupati Semarang, Raden Mas Adipati Poerbohadingrat, di Tarekat Kemasonan. Sam berkata, Poerbohadingrat berjuang agar masyarakat umum juga memperoleh peluang bergabung ke kelompok persaudaraan yang ia ikuti.

Raden Adipati Tirto Koesoemo, Bupati Karanganyar. Anggota Loji Mataram sejak 1895. Ketua pertama Boedi Oetomo. Pada kongres kedua Boedi Oetomo yang diadakan di Loji Mataram, ia mengusulkan pemakaian bahasa Melayu, mendahului Sumpah Pemuda, kira-kira 20 tahun. (Dok Theo Stevens)
“Begitu juga dengan penggunaan bahasa Jawa dalam kegiatan Kemasonan. Akhirnya ada penerjemahan buku-buku Kemasonan berbahasa Belanda ke bahasa Jawa karena dia,” tutur Sam pertengahan Januari lalu.

Sumbangsih terbesar Poerbohadiningrat kepada Tarekat Kemasonan di Hindia Belanda, menurut Sam, adalah buku berjudul Apa yang Aku Dapatkan Sebagai Orang Jawa di Kemasonan (Wat Ik Als Javaan Voor Geest En Gemoed In De Vrijmetselarij Heb Gevonden).

“Buku catatannya yang berbahasa Jawa itu kemudian diterjemahkan ke bahasa Belanda supaya bisa dibaca orang banyak. Itu merupakan salah satu buku babon dalam mempelajari Kemasonan,” kata Sam.
Seiring perkembangan Tarekat Kemasonan di Hindia Belanda, loji-loji bermunculan di berbagai kota besar, dari Kuta Raja (kini Banda Aceh) hingga Makassar. Pun, jumlah lelaki kelahiran Hindia Belanda yang diterima di Tarekat semakin banyak, baik mereka yang disebut pribumi maupun peranakan.

Anggota Tarekat Kemasonan yang dari kalangan warga asli Hindia Belanda, pada awal abad ke-20 didominasi pejabat pemerintahan.

Ryzki Wiryawan, pegiat sejarah Kota Bandung, mencatat mereka antara lain Bupati Bandung Aria Wiranatakusumah V, Bupati Bogor Wisaksono Wirdjodihardjo dan Bupati Banjarnegara sekaligus Guru Agung Tarekat Kemasonan Indonesia pertama, Soemitro Kolopaking.


Dua pejabat penting lain asli Hindia Belanda yang tercatat sebagai anggota tarekat adalah Loa Sek Hie dan Kanjeng Raden Tumenggung Radjiman Wedyodiningrat.

Loa, sebagaimana dicatat Stevens, pernah menjabat anggota Dewan Rakyat Hindia Belanda (Voolksraad). Sementara itu, Radjiman yang berprofesi sebagai dokter memiliki jejak penting pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Radjiman mendirikan dan pernah memimpin Boedi Oetomo. Jelang 17 Agustus 1945, Radjiman terpilih menjadi ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerderkaan Indonesia.

Dr. Radjiman Wediodipoera Wedioningrat di masa muda. (Dok Theo Stevens
Seorang ilmuwan asal Jawa Tengah, Raden Atmadi Wreksoatmodjo, salah seorang mason yang berandil besar bagi pendidikan Indonesia. Atmadi pernah menjabat direktur Rumah Sakit Umum Pemerintah di Semarang. Rumah sakit tersebut kini menjadi yang terbesar dan menjadi rujukan di Jawa Tengah.

Atmadi terdaftar sebagai anggota Loji La Constante et Fidele (belakangan menjadi Loji Bhakti) pada tahun 1956 hingga 1957. Ia merupakan pendiri sekolah kedokteran di Semarang. Stevens mencatat, sekolah yang digagas Atmadi merupakan cikal bakal Universitas Diponegoro. Kala itu, Atmadi juga berstatus sebagai pengurus Yayasan Djojobojo.

Ada pula Raden Said Soekanto Tjokodiatmodjo. Stevens menulis, Soekanto telah menjadi bagian dari persaudaraan Kemasonan di Hindia Belanda sebelum akhirnya diangkat Presiden Soekarno menjadi Kepala Kepolisian Indonesia pertama.

Majalah Kemasonan yang beredar di kalangan anggota Tarekat (Indisch Maconnek Tijdschrift) mencatat, Soekanto secara resmi mendaftarkan diri sebagai calon anggota Loji Purwa-Daksina pada September 1953.

Soekanto yang akhirnya dianugerahi status sebagai Guru Agung Tarekat Kemasonan Indonesia itu dilantik menjadi anggota Loji Purwa-Dhaksina pada 8 Januari 1954. Stevens berkata, prosesi penerimaan Soekanto dilakukan dalam bahasa Indonesia, diiringi musik gamelan dan dihadiri sekitar 50 orang.

Sam bercerita, Soekarno tidak kunjung membubarkan Loge Agung Indonesia setelah menggelorakan manisfestasi politiknya karena segan terhadap Soekanto. Tatkala Soekanto umroh, Soekarno mengeluarkan Peraturan Penguasa Perang Tertinggi Nomor 7 Tahun 1961 yang melarang aktivitas Loge Agung Indonesia.

Bung Karno yang telah menyatakan diri sebagai presiden seumur hidup itu pun lantas menguatkan pelarangan itu dengan meneken Keputusan Presiden Nomor 264 Tahun 1962.

Usai geger Peristiwa 1965 dan pergantian rezim, Sam berkata, Soekanto menemui Presiden Soeharto dan memohon pencabutan Keppres pelarangan aktivitas Loge Agung Indoneisa.

“Dia meminta LAI diizinkan untuk didirikan kembali tapi itu tidak dikabulkan. Soeharto menolak karena Keppres itu murni keputusan politik,” ujar Sam. (sip)




BACA JUGA