Standar Keselamatan Gempa di Indonesia Dinilai Masih Rendah

Bagus Wijanarko, CNN Indonesia | Kamis, 03/03/2016 09:49 WIB
Standar Keselamatan Gempa di Indonesia Dinilai Masih Rendah Dosen Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjajaran Reza Mohammad Ganjar Gani mengatakan prosedur standar dalam penyelamatan ketika terjadi gempa di Indonesia masih rendah. (Thinkstock/SteveCollender)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dosen Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjajaran Reza Mohammad Ganjar Gani mengatakan prosedur standar dalam penyelamatan ketika terjadi gempa di Indonesia masih rendah. Pernyataan ini disampaikannya mengomentari lindu tektonik berkekuatan 7,8 skala richter yang mengguncang Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat kemarin malam.

Reza mencontohkan standar prosedur keselamatan gempa di Jepang yang sudah baku dan dipakai warga di sana. Di negara matahari terbit, wilayah-wilayah yang rawan terjadi gempa katanya selalu memiliki bunker-bunker yang bisa dipakai ketika terjadi lindu.

“Contohnya di tiap TK atau Sekolah Dasar. Selalu ada bunker disiapkan mengantisipasi ada gempa. Jadi ketika terjadi gempa orang-tua tahu kemana harus mencari anak-anaknya,” kata Reza, Kamis (4/3).


Ketika terjadi gempa di Indonesia, kata Reza, orang-orang mengalami kepanikan. Banyak dari mereka lari menuju ke puncak, gunung, atau ke tempat yang tinggi. Datangnya gempat memang tidak bisa diprediksi. Bumi yang memiliki sifat dinamis selalu mencari posisi keseimbangan. Gempa kemarin menurutnya bersifat lateral. “Gempa kemarin seperti ember yang digeser. Jadi tidak jatuh airnya,” kata dia.

Namun, gempa bersifat lateral menurutnya tidak bisa dianggap sepele. Ini bisa dilihat ketika Jepang diguncang gempa dahsyat pada 2011 lalu. Meski tidak bisa diprediksi, gempa menurutnya harus selalu dipantau terutama oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,8 skala richter mengguncang Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, Rabu malam (2/3) pukul 19.49.47 WIB. Saat pertama kali diinformasikan secara resmi kepada publik, BMKG menyebut guncangan kuat tersebut berpotensi tsunami sehingga masyarakat berhamburan mengamankan diri ke tempat tinggi.

Namun BMKG secara resmi telah mengakhiri peringatan dini tsunami tersebut tepat pukul 22.32.42 WIB, Rabu malam. Pantai barat Sumatra dinyatakan aman, sehingga masyarakat pesisir pantai yang sempat melakukan evakuasi diminta kembali ke rumah masing-masing.

BMKG mencatat ada enam gempabumi susulan dengan kekuatan yang terus mengecil di Kepulauan Mentawai, pascagempa berkekuatan 7,8 skala richter, Rabu malam (2/3). Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, gempabumi susulan ini diyakini tidak akan terjadi gempa berkekuatan lebih besar.

“Hingga hari Kamis dini hari pukul 03.00 WIB, tercatat ada enam aktivitas gempabumi susulan. Tidak akan terjadi gempa dengan kekuatan lebih besar,” kata Daryono dalam keterangan resminya, Kamis (3/3).

Daryono mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing isu serta informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. “Pastikan bahwa informasi terkait gempabumi dan tsunami berusmber dari BMKG,” kata Daryono. (bag)