Ada tiga poin dari surat pernyataan tesebut yakni, pertama, Ade berjanji tidak akan ikut memprakarsai pelaksanana Munas Golkar hingga 2019. Kedua, Ade berjanji tak akan maju sebagai calon ketua umum Golkar hingga 2019. Ketiga, Ade berkonsentrasi penuh menjalankan tugas sebagai Ketua DPR.
Ade yang menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat mengakui pernah menandatangani surat pernyataan saat dirinya hendak didaulat sebagai pengganti Setya Novanto di parlemen. Namun, kata Ade, dia tak membaca surat pernyataan yang diserahkan kepadanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu kata Ade, desakan pelaksanaan Munas Luar Biasa (Munaslub) sangat kuat. Sehingga saat diminta untuk tidak menginisiasi Munas, dirinya mengaku siap. Ade membubuhi tandatangan setelah rapat pengurus yang menyetujui dirinya menjadi ketua DPR.
Saat Ade baru menjabat sebagai ketua DPR dan bursa caketum Golkar memanas, Ade juga mengaku ditelpon oleh Ical setelah politikus Partai Golkar Ridwan Bae mengungkap isi pernyataan yang ditekennya itu. Saat itu, Ical tidak membenarkan ucapan Ridwan.
"Pak Ical telpon dari Hongkong terus sampaikan bahwa yang dibilang Ridwan itu enggak bener. Ade boleh mencalonkan. Semua orang punya hak-hak terus saya bilang: Iya bang kan seingat saya abang bilangnya permintaannya tak insiasi Munas ko bs keluar pernyataan lain saya enggak ngerti," ujarnya.
"Saya pikir ini cara-caranya sudah enggak baik. Saya senyum-senyum saja. Ngapain saya marah-marah. Saya jujur apa yang saya lakukan apa adanya," katanya.
Ade juga enggan mengomentari jika surat pernyataan yang beredar tersebut sebuah kampanye hitam untuk dirinya. Menurut dia, setiap kader Golkar boleh mencalonkan diri asal memenuhi persyaratan yang ada dalam AD/ART Golkar. Dan dia yakin sudah memenuhi persayaratan tersebut.