“Perpindahan kekuasaan dari Susilo Bambang Yudhoyono ke Joko Widodo tak lebih dari sekadar pertukaran politik dari pemerintahan lama ke pemerintahan baru dalam bentuk formal. Jaminan pemajuan dan penegakan hak asasi manusia yang secara resmi menjadi agenda politik Nawacita pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, nyatanya tidak menyediakan tempat substansial bagi penegakan dan perlindungan hak atas kebebasan berekspresi dan berpendapat,” demikian kutipan laporan Elsam yang berjudul 'Situasi Kebebasan Berekspresi di Indonesia 2015.'
Elsam menyebut pemerintah Jokowi-JK mencetak “capaian yang mengecewakan” dalam memutus rantai kekerasan terhadap kebebasan berekspresi dan berpendapat di Indonesia, dan dengan demikian mencetak rekor buruk di mata internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Freedom House –organisasi nonpemerintah dan nonpartisan asal Amerika Serikat yang melakukan penelitian dan advokasi di bidang demokrasi, kebebasan politik, dan hak asasi manusia– memasukkan indeks kebebasan Indonesia tahun 2016 dalam kategori bebas sebagian (partly free), bukan sepenuhnya bebas (free).
Terakhir, kemarin pemutaran perdana film dokumenter Pulau Buru Tanah Air Beta yang mestinya digelar di Goethe-Institut, Menteng, Jakarta Pusat, dibatalkan lantaran ‘kepungan’ organisasi massa tertentu.
Pemutaran film yang bercerita tentang tahanan politik tahun 1965 yang “pulang” ke Pulau Buru, Maluku, itu akhirnya “diselamatkan” dengan dipindah ke kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan dihelat terbatas.