Prajurit TNI di Heli yang Jatuh sedang Buru Teroris Santoso

Anggi Kusumadewi, CNN Indonesia | Minggu, 20/03/2016 21:46 WIB
Operasi Tinombala digelar TNI bersama Polri sejak 10 Januari. Targetnya: menangkap Santoso dalam 60 hari. Namun di tengah perburuan, musibah menimpa. Ilustrasi. (ANTARA/Basri Marzuki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Penerangan Komando Daerah Militer VII/Wirabuana Kolonel I Made Sutia menyatakan, 13 personel Angkatan Darat Tentara Nasional Indonesia yang tewas dalam kecelakaan helikopter di Poso Pesisir Selatan, Sulawesi Tengah, sedang menjalankan tugas rutin.
Tugas rutin itu, menurut Sutia, ialah terkait Operasi Tinombala yang digelar TNI bersama Polri. Operasi itu sudah dimulai sejak 10 Januari awal tahun ini, dan menargetkan menangkap teroris Santoso alias Abu Wardah dalam 60 hari.

"Operasi Tinombala itu operasi gabungan TNI-Polri untuk mengejar kelompok teroris pimpinan Santoso," kata Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal Rudy Sufahriadi, Minggu (20/3).

Perburuan Santoso yang telah berlangsung sepanjang tahun 2015, hingga kini belum juga berakhir. Baru saja awal bulan ini, 10 Maret, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti mengatakan memperpanjang Operasi Tinambola di Poso untuk memburu Santoso, pimpinan Mujahidin Indonesia Timur.


“Operasi Tinombala diperpanjang dua bulan,” kata Badrodin di Mabes Polri saat itu.

Badrodin juga secara resmi meminta Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk membantunya. Menurut Badrodin, tak masalah apakah polisi atau tentara yang dikerahkan dalam perburuan itu selama Santoso tertangkap.

Toh, ujar Badrodin, tahun lalu pun Kepolisian mendapat dukungan dari TNI dalam Operasi Camar Maleo yang digelar empat gelombang untuk memburu Santoso.

“Kami mengantisipasi agar tidak ada lagi aksi terorisme,” ujar Badrodin.
Kapolda Sulawesi Tengah yang baru, Brigadir Jenderal Rudy Sufahriadi, ketika itu menegaskan siap menyukseskan Operasi Tinombala.

“Saya akan pimpin langsung perburuan Santoso. Saya kejar Santoso di mana pun berada, dan memang dibutuhkan bantuan TNI. Presiden sudah bilang, operasi harus dilakukan gabungan (TNI-Polri),” kata Rudy.

Bantuan tentara diperlukan terutama karena kondisi geografis atau medan perburuan yang sulit, yakni hutan belantara.
Aksi terorisme di Poso tak pernah sepenuhnya tuntas meski dalam tiga tahun belakangan terjadi tiga kali pergantian Kapolda Sulawesi Tengah.

Tinombala diharapkan dapat menjadi operasi pamungkas. Sayangnya musibah terjadi di tengah operasi ini. Helikopter yang jatuh karena dugaan cuaca buruk membuat 13 prajurit TNI AD gugur dalam tugas.
(agk)