Panglima TNI: Dirjen Pajak Adalah 'Debt Collector' Legal

Resty Armenia, CNN Indonesia | Rabu, 30/03/2016 11:36 WIB
Panglima TNI: Dirjen Pajak Adalah 'Debt Collector' Legal Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan tiga wakil kepala staf angkatan mengisi Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak masing-masing secara elektronik dengan menggunakan e-filling. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan tiga wakil kepala staf angkatan mengisi Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak masing-masing secara elektronik dengan menggunakan e-filling. Dalam kesempatan itu Gatot menyatakan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan merupakan 'debt collector' legal.

Acara dihadiri oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal M Erwin Syafitri, Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya Arie Henrycus Sembiring, Wakil Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Madya Hadiyan Sumintaadmadja, dan Direktur P2 Humas Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Mekar Satria Utama.

Pengisian SPT Pajak dilakukan di Ruang Hening, Gedung Sudirman, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (30/3) pagi. Keempat pejabat tersebut tampak menyalin rincian pajak pribadi masing-masing ke dalam formulir menggunakan laptop yang berjajar di hadapan mereka dengan bimbingan empat petugas Ditjen Pajak.



Dalam pidato sambutannya, Gatot menuturkan, pajak merupakan potensi terbesar sebagai sumber penerimaan negara yang dikenakan kepada warga negaranya. Menurutnya, pajak menjadi kontribusi wajib rakyat kepada negara, karena peranan penerimaan pajak menjadi sangat dominan bagi negara dalam menjalankan roda pemerintahan.

"Ini penting, karena sebenarnya Dirjen Pajak (Ken Dwijugiasteadi) dan jajarannya merupakan 'debt collector' legal. Tapi debt collector ini harus dikawal dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Mengapa? Karena dalam pembangunan bangsa ini pajaklah yang paling dominan," katanya.

Apalagi, lanjut Gatot, target pajak tahun ini menyentuh angka Rp1.360 triliun, meningkat signifikan dari tahun lalu. Karenanya, tuturnya, dalam kondisi seperti ini, pemerintah perlu dukungan moral dari seluruh komponen bangsa.

"Untuk itu, kita bersama di sini untuk mengenalkan e-filling. Karena dilakukan di Mabes TNI, maka ini langkah awal untuk diterapkan ke seluruh jajaran. Karena pajak tidak mengenal status. Semua memiliki kewajiban pajak yang sama," ujarnya.

Dia mengharapkan kegiatan ini bisa langsung ditindaklanjuti oleh para kepala staf angkatan dari ketiga matra kepada seluruh jajarannya, sehingga bisa menjadi contoh bagi masyarakat umum untuk memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak.


Dalam kesempatan yang sama, Mekar mengatakan bahwa pengisian SPT Pajak menggunakan e-filling sudah diterapkan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk oleh para pasukan TNI, anggota Polri, dan pegawai negeri sipil (PNS). Hal itu, ucapnya, sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

"Hari ini adalah puncaknya. Panglima tertinggi dan wakil kepala staf seluruh angkatan memberikan contoh dan petunjuk kepada bawahannya bahwa pelaksanaan laporan SPT Pajak dilakukan dengan e-filling," katanya.

Mekar berpendapat, kondisi perekonomian Indonesia saat ini sebenarnya belum begitu baik, namun dengan dukungan seluruh lapisan masyarakat, termasuk anggota TNI, maka pihaknya memiliki harapan bahwa ada potensi-potensi pajak yang belum tergali untuk bisa memenuhi target pajak tahun ini.

(obs/obs)