Insiden tabrakan antara pesawat Boeing 737-800 milik maskapai Batik Air dan pesawat ATR milik Transnusa, Senin (4/4) kemarin, menurut Chappy, merupakan bukti pendapatnya.
"Pesawat terbang tabrakan di Halim? Tidak aneh sama sekali. It's matter of time," tutur Chappy melalui akun Twitternya, @chappyhakim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Halim yang sebelumnya dioperasikan untuk penerbangan militer, kata Chappy, tidak akan mampu menanggung aktivitas penerbangan komersial karena hanya memiliki satu landas pacu (runaway).
"Itu adalah sebuah kreasi untuk berjudi dengan nyawa. Danger is my business," sindirnya.
Pada tulisannya yang berjudul Pindah ke Halim Solusi yang 'Berbahaya', Chappy berkata, di seberang landas pacu Halim tersedia semacam landas ancang.
Namun menurutnya, jalur tersebut tidak menyelesaikan persoalan karena posisi dan jalur menuju landas pacu tidak didesain untuk menjadi landas ancang yang memudahkan lepas landas (take off) dan pendaratan.
Chappy berkata, Halim sepatutnya hanya dimanfaatkan untuk penerbangan militer serta penerbangan khusus untuk very very important person, baik pejabat tinggi negara maupun tamu negara.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementrian Perhubungan JA Barata mengatakan, tidak terdapat korban jiwa dalam kecelakaan tersebut.
Pesawat Transnusa rusak di bagian ekor pesawat dan sayap bagian kiri. Di sisi lain, bagian ujung sayap sebelah kiri pesawat Batik Air juga rusak.