Ketika Penerjun Payung Takut di Udara
Prima Gumilang | CNN Indonesia
Sabtu, 16 Apr 2016 15:55 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesawat CN-295M dari skadron udara 2 terbang di atas ketinggian 6.000 kaki. Pesawat angkut taktis militer Twin Turboprop ini mengangkut 20 orang penerjun payung TNI Angkatan Udara.
Cuaca sore itu, Jumat (15/4), mendukung demonstrasi terjun payung dari Korps Pasukan Khas TNI AU. Di bawah langit Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, para pengunjung pameran Bulan Dirgantara menunggu aksi mereka.
Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna ikut menyaksikan laga anak buahnya. Satu per satu anggota tim keluar dari pesawat rakitan PT Dirgantara Indonesia kerjasama dengan Airbus Military Spanyol itu. Mereka terjun sesuai aba-aba.
Tiba giliran Sertu Bernadus Setya mengambil ancang-ancang, bersiap melancarkan aksinya. Sebelum terjun, hatinya tak keruan. Adrenalinnya berdetak kencang sebelum meloncat keluar dari pesawat.
Meski telah merasakan terjun sebanyak 720 kali, ketakutan itu masih saja menghantui Bernadus tiap kali hendak melompat. Bernadus berusaha tenang mengusir gugup.
“Kami berusaha lawan rasa takut di saat kami melayang keluar dari pesawat. Semua orang takut (sebelum terjun), yang enggak takut itu gila," kata Bernadus mengungkapkan perasaanya kepada CNNIndonesia.com, usai pertunjukan.
Usai meloncat, Bernadus merasa lega. Namun itu tak berlangsung lama, jantungnya kembali berderap. Segera setelah dia berhasil menyeimbangkan tubuh, parasut dibentangkan.
Itu dilakukan dalam hitungan tiga detik begitu keluar dari pesawat. Perhitungannya harus matang sebelum mencabut parasut utama. Jika tidak, parasut tak akan mengembang dengan sempurna.
Alat kendali bisa jadi tak stabil. Tahap ini merupakan tantangan kedua, baginya. "Saat mencabut payung, kalau salah pasti trouble payungnya," ujar Bernadus.
Sebagai pemimpin The Red Line Team Canopy Formation Paskhas TNI AU, Bernadus tahu kapan dia akan memulai aksinya. Dia menarget paling rendah di atas ketinggian 4.000 kaki, timnya harus bergabung membentuk formasi di udara.
"Karena ini misinya demo, kalau semakin rendah semakin sebentar orang melihat kami. Justru kami ingin setinggi mungkin buat formasi supaya lama dilihat," katanya.
Cuaca sore itu, Jumat (15/4), mendukung demonstrasi terjun payung dari Korps Pasukan Khas TNI AU. Di bawah langit Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, para pengunjung pameran Bulan Dirgantara menunggu aksi mereka.
Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna ikut menyaksikan laga anak buahnya. Satu per satu anggota tim keluar dari pesawat rakitan PT Dirgantara Indonesia kerjasama dengan Airbus Military Spanyol itu. Mereka terjun sesuai aba-aba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski telah merasakan terjun sebanyak 720 kali, ketakutan itu masih saja menghantui Bernadus tiap kali hendak melompat. Bernadus berusaha tenang mengusir gugup.
Usai meloncat, Bernadus merasa lega. Namun itu tak berlangsung lama, jantungnya kembali berderap. Segera setelah dia berhasil menyeimbangkan tubuh, parasut dibentangkan.
Itu dilakukan dalam hitungan tiga detik begitu keluar dari pesawat. Perhitungannya harus matang sebelum mencabut parasut utama. Jika tidak, parasut tak akan mengembang dengan sempurna.
Alat kendali bisa jadi tak stabil. Tahap ini merupakan tantangan kedua, baginya. "Saat mencabut payung, kalau salah pasti trouble payungnya," ujar Bernadus.
Sebagai pemimpin The Red Line Team Canopy Formation Paskhas TNI AU, Bernadus tahu kapan dia akan memulai aksinya. Dia menarget paling rendah di atas ketinggian 4.000 kaki, timnya harus bergabung membentuk formasi di udara.
"Karena ini misinya demo, kalau semakin rendah semakin sebentar orang melihat kami. Justru kami ingin setinggi mungkin buat formasi supaya lama dilihat," katanya.
Atraksi di Udara
BACA HALAMAN BERIKUTNYA