Liputan Khusus

Wiweko Soepono dan Kisah Aceh Beli Pesawat Angkut Pertama RI

Prima Gumilang, Anggi Kusumadewi, CNN Indonesia | Rabu, 20/04/2016 15:27 WIB
Wiweko Soepono dan Kisah Aceh Beli Pesawat Angkut Pertama RI Wiweko Soepono berperan penting dalam pembelian pertama pesawat angkut Indonesia. (Wikimedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertengahan Juni 1948, jamuan makan malam istimewa digelar para saudagar Aceh di Kutaraja (kini Banda Aceh) untuk menyambut kedatangan Presiden Sukarno dan tim propaganda pembelian pesawat angkut sipil Indonesia.

Namun suasana perjamuan di Hotel Aceh samping Masjid Raya itu terasa kaku. Sukarno lebih banyak diam. Dia tak menyentuh hidangan apalagi menyantapnya. Padahal sang Presiden sudah berkali-kali dipersilakan makan. Sikap Sukarno sudah barang tentu membuat para saudagar sungkan sekaligus memendam tanya.

Di tengah kebingungan itu, Sukarno tiba-tiba bersuara. Dengan nada berat berwibawa, dia berkata, “Saya tidak akan makan sebelum orang Aceh berjanji menyumbang sebuah pesawat terbang kepada pemerintah untuk memperlancar perjuangan mempertahankan kemerdekaan.”


Sukarno berpidato penuh semangat sambil menunjukkan miniatur pesawat kepada para saudagar Aceh. “Saya berharap agar pesawat model yang terbuat dari kayu ini lekas menjelma menjadi pesawat terbang sungguhan.”

Miniatur pesawat yang dipamerkan Sukarno itu buatan Wiweko Soepono, Kepala Biro Rencana dan Konstruksi Angkatan Udara Republik Indonesia.

Sebelum Sukarno berangkat ke Aceh, Wiweko dan timnya seharian sibuk di Bengkel Teknik Pangkalan Udara Maospati, Madiun (kini Lanud Iswahjudi). Mereka merancang dan membuat miniatur pesawat Dakota dari ukiran kayu. Dakota ialah pesawat angkut asal Amerika Serikat yang kerap digunakan Sekutu selama Perang Dunia II.

Hanya dalam waktu 24 jam, Tim Wiweko berhasil membuat 25 miniatur pesawat. Wiweko amat antusias lantaran proposal penggalangan dana pesawat Dakota yang diajukan Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Suryadi Suryadarma diterima oleh Presiden. Sukarno bahkan bersedia memimpin langsung tim propaganda penghimpunan dana pesawat angkut RI itu.
Memiliki pesawat angkut sipil dianggap mendesak karena kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau. Maka Sukarno, saat melakukan perjalanan keliling Sumatra, sekaligus sambil menggelar kampanye pengumpulan Dana Dakota.

Diceritakan dalam buku Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950, penggalangan dana dilakukan di Sumatra –Lampung, Bengkulu, Pekanbaru, Bukittinggi, Tapanuli, Aceh– karena pulau itu telah diakui sebagai wilayah Republik Indonesia, menyimpan kekayaan alam luar biasa, dan para pedagangnya mendukung perjuangan RI.

Sementara pulau-pulau di timur Indonesia saat itu dalam kondisi masih rawan karena Belanda memblokade hampir seluruh Laut Jawa.

Permintaan Sukarno agar Aceh menyumbang dana untuk membeli pesawat, disambut tepuk tangan oleh para saudagar. Bisnis saudagar-saudagar Aceh kala itu sedang gemilang dan berkembang hingga ke luar negeri.

“Keinginan pemerintah pusat memiliki pesawat terbang untuk mendukung perjuangan sebagaimana disampaikan Bung Karno, Insya Allah dapat segera terpenuhi, kata perwakilan saudagar Aceh, seperti dikisahkan dalam buku Dari Blitar ke Kelas Dunia: Wiweko Soepono Membangun Penerbangan Indonesia.

Mendengar kesediaan Aceh membantu, Sukarno langsung menyantap hidangan. Suasana perjamuan sekejap berubah ceria.

Untuk memenuhi dana pembelian pesawat, 13 perusahaan ekspor impor Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida) sepakat urunan. Sebagian keuntungan penjualan kopra ke Malaysia disisihkan sebesar 200 Ringgit. Dalam dua bulan, terkumpul 120 ribu Ringgit atau senilai 20 kilogram emas. Itu cukup untuk membeli satu pesawat.

Agustus 1948, Wiweko berangkat ke Burma untuk mengurus pembelian pesawat. Dua bulan kemudian, Dakota tiba di Lanud Maguwo Yogyakarta melewati Pekanbaru dan Jambi. Dalam penerbangan itu, Wiweko berperan sebagai navigator. Ia memberi petunjuk soal rute mana yang harus ditempuh untuk menghindari blokade Belanda.

Replika Seulawah, pesawat angkut Indonesia yang dengan dana rakyat Aceh. Wiweko Soepono adalah orang yang ditugasi mengurusi pembelian itu. (Gunawan Kartapranata via Wikimedi)
Pesawat angkut yang dibeli dari dana Aceh itu kemudian diberi nomor registrasi RI-001, dan dinamakan Seulawah yang berarti Gunung Emas. Seulawah memang nama gunung di Aceh. Diberi nama demikian sebagai penghormatan terhadap rakyat Aceh yang bersusah payah membantu perjuangan RI.

“Dia (Wiweko) menganggap hubungan baik antara pusat dan daerah itu bagian dari ketahanan nasional. Prinsip itu terus dia pegang sampai dia di Garuda, bagaimana menghubungkan pulau-pulau yang terpisah ini,” ujar Bodhidarma Wiweko, putra Wiweko, kepada CNNIndonesia.com di kantornya, Bintaro, Tangerang Selatan, Selasa (22/3).

Tendang orang ketiga di kokpit

Penerbangan sipil selalu menjadi perhatian Wiweko. Saat sudah tak lagi berkiprah di Angkatan Udara, ia ditunjuk Presiden Soeharto menjadi Direktur Garuda Indonesia untuk menyelamatkan perusahaan penerbangan nasional yang kala itu hampir bangkrut tersebut. Wiweko pun memperketat manajemen sektor keuangan dan meremajakan armada. Dia memimpin Garuda Indonesia selama 16 tahun, dari 1968 sampai 1984.

Seorang kawan, Suharto, mengingat Wiweko sebagai sosok yang spontan dan ceplas-ceplos. Wiweko juga merupakan penggagas konsep kokpit untuk dua awak pesawat (two-man crew cockpit) yang kini digunakan di seluruh dunia.

“Sekarang kokpit pesawat terbang kan diisi pilot dan kopilot. Kalau dulu ada flight engineer, orang ketiga di belakang pilot dan kopilot. Orang ketiga ini, menurut Wiweko, tidak perlu. Memenuhi tempat saja,” kata Suharto di kediamannya, Depok, Jawa Barat, Jumat (18/4).

Maka Wiweko yang waktu itu menjabat Dirut Garuda Indonesia memesan pesawat kepada Airbus dengan syarat kokpit didesain untuk dua orang saja. “Pikiran Wiweko itu mungkin dulu dianggap seenaknya sendiri, tapi permintaannya dipenuhi dan kemudian malah ditiru pemesan lain,” ujar Suharto yang kini berusia 83 tahun.
Two-man crew cockpit bermula pada 1977, ketika Wiweo bertandang ke pabrik Airbus di Perancis untuk memesan pesawat berbadan lebar untuk penerbangan jarak pendek-menengah Airbus A300. Wiweko yang juga pilot lantas menguji A300.

Usai uji coba, Wiweko mengemukakan pendapatnya, bahwa peran flight engineer sebagai orang ketiga di kokpit tak diperlukan karena teknologi pesawat sudah demikian canggih. Jumlah awak di kokpit, menurut Wiweko, tak mempengaruhi keselamatan penernangan.

Apalagi sebelum itu Wiweko pernah memodifikasi Beechcraft Super 18 dengan peralatan canggih sehingga hanya perlu diterbangkan satu pilot. Dia juga mengurangi jumlah awak kokpit Douglas DC-8 milik Garuda dari lima orang menjadi hanya tiga orang. Bagi Wiweko, efisiensi sumber daya manusia dalam perusahaan itu penting.

Airbus bersama Wiweko kemudian merancang pesawat dengan kokpit untuk dua awak. Peran yang selama ini dipegang flight engineer jadi dapat dilakukan hanya oleh dua orang pilot. Garuda lantas memesan sembilan unit pesawat model itu meski kokpit model baru itu ditentang dunia karena dinilai membahayakan.

Namun protes itu perlahan lenyap saat Airbus kembali memproduksi pesawat dengan kokpit untuk dua awak. Hal yang sama bahkan dilakukan Boeing. Wiweko menjadi pelopor desain kokpit efisien di dunia.

“Dulu ada simulator di Kosambi, Cengkareng, sebagai tempat pilot berlatih two-man crew cockpit. Pilot-pilot luar negeri latihannya di situ. Sekarang terbukti Wiweko benar. Dengan sistem elektronik yang maju sekali, pesawat bahkan bisa dibilang terbang sendiri sehingga orang ketiga di kokpit tak diperlukan,” kata Suharto yang lulusan Universitas Teknologi Braunschweig, Jerman.

Wiweko sudah pandai mengutak-atik pesawat sejak remaja. Pada masa awal bergabung dengan AURI saat Indonesia belum lama merdeka, 1947, Wiweko bersama kawannya Nurtanio Pringgoadisurjo membuat pesawat glider. Pesawat pertama karya putra Indonesia itu diberi nama NWG-1 (Nurtanio-Wiweko Glider). Enam pesawat luncur sejenis lalu dibuat.

Wiweko tak peduli dengan keterbatasan tenaga ahli, minimnya komponen maupun peralatan, serta blokade Belanda yang masih berlangsung. Dia terus membuat pesawat.

Pesawat ringan berkursi tunggal dengan mesin motor Harley-Davidson 750 cc, Wiweko Experimental Lightplane atau RI-X, berhasil dibuat pada 1948. Sayang pesawat itu lantas hancur terkena ledakan granat di gerbong kereta usai mengikuti pameran di Yogyakarta.

Replika pesawat buatan Wiweko Soepono, RI-X. (CNN Indonesia/Resty Armenia)
Wiweko menentang ketergantungan asing di bidang penerbangan. Dia menegaskan perhubungan udara amat penting bagi negara merdeka, dan yakin Indonesia mampu mengelola transportasi udaranya sendiri.

Putra Wiweko, Bodhidarma, memahami jalan pikiran sang ayah. “Prinsip dia, Indonesia itu tidak kalah dengan asing, dan tidak perlu tunduk pada Barat.”
(agk)