Tidak hanya dari sisi korban, simposium juga memperdengarkan kesaksian para jenderal Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (kini Tentara Nasional Indonesia) yang kala itu menjabat, yaitu Sintong Pandjaitan.
Sintong ketika itu merupakan perwira pertama Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (kini Komando Pasukan Khusus).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara berapi-api, Sintong menyatakan keheranannya dengan klaim korban sebanyak 500 ribu jiwa yang dipaparkan sejumlah lembaga advokasi HAM.
Lihat juga:LIVE: Simposium Nasional Tragedi 1965 |
Catherine Pandjaitan, anak Donald Isaac Panjaitan, bercerita bagaimana ia memiliki ikatan erat dengan anak petinggi PKI Nyoto, Svetlana Nyoto.
"Saya peluk mereka, saya minta maaf, saya tidak tahu mereka lebih sakit daripada saya. Betapa indahnya kalau dapat bermaaf-maafan," ucap Catherine.
Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan misalnya, kata Asvi, tidak memiliki kapasitas untuk meminta maaf. "Yang (mesti) meminta maaf adalah Presiden Jokowi, bukan Luhut," ucap Asvi.
Pada penyelenggaraan simposium hari kedua, Selasa (19/4), empat sesi dialog akan digelar. Keempat sesi tersebut akan diakhiri sebuah refleksi penutupan.
Tajuk yang akan digali pada simposium besok antara lain tentang konstruksi ingatan Tragedi 1965, masyarakat Indonesia pada masa reformasi dan masa depan.
Pembicara pada sesi-sesi itu merupakan pegiat HAM, mantan jenderal TNI, petinggi organisasi keagamaan dan korban 1965, seperti Putu Oka Sukanta, Galuh Wandita, Kumala Chandrakirana dan Marsudi Suhud. (abm)