"Saya rasa wajar jika terjadi banyak pandangan, terjadi kontroversi, ada yang menolak dan ada yang mendukung hal itu normal bagi bangsa Indonesia yang terdiri atas banyak lapisan masyarakat," kata Ramos Horta, saat diwawancarai wartawan, di Jakarta, Kamis (5/5).
Di belahan dunia mana pun, menurutnya, bahkan Amerika Serikat yang telah lama mendukung sistem demokrasi sejak lama sekalipun, juga akan bungkam ketika dibahas mengenai masalah sensitif seperti perbudakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memutuskan untuk meninggalkan masa lalu, bukan berarti lupa peristiwa tersebut, tetapi meninggalkan luka dan menatap ke depan," kata dia lagi.
"Ya masa transisi sejak lepas Indonesia sangat sulit, saya dikritik oleh berbagai pihak, tetapi Timor Leste berusaha menghadapi masa lalunya. Sejarah itu meski kelam tetap kami ceritakan kepada anak sekolah agar tidak terulang pada masa depan," katanya pula.
Pada era Joko Widodo dan Jusuf Kalla, pemerintah berkomitmen untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM berat yang terjadi di Indonesia, termasuk tragedi 1965-1966 yang memakan korban sekitar 500 ribu jiwa.
Tidak hanya itu, pemerintah juga ingin menyelesaikan kasus HAM yang terjadi di Papua.
Ramos Horta juga diundang oleh Kemenko Politik, Hukum dan Keamanan ke Papua untuk mendengarkan masalah-masalah yang terjadi di Papua.
Dia sempat bertemu Gubernur Jayapura, tokoh masyarakat serta Kapolda Papua pada 2 Mei lalu. (ags)