Indeks Integritas SMA Meningkat, Nilai Ujian Nasional Turun

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Selasa, 10/05/2016 05:17 WIB
Indeks Integritas SMA Meningkat, Nilai Ujian Nasional Turun Indeks integritas sekolah yang mengupayakan kejujuran dalam UN disebut salah satu faktor menurunnya nilai rata-rata siswa dalam ujian kali ini. (CNN Indonesia/Safir Makki))
Jakarta, CNN Indonesia -- Pencapaian rata-rata hasil Ujian Nasional (UN) Sekolah Menengah Atas (SMA) mengalami penurunan.Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, penurunan ini disebabkan karena sudah ditingkatkannya indeks integritas sekolah yang mengupayakan kejujuran dalam UN.

"Kita tahu selama bertahun-tahun pelaksanaan UN ada ketidakjujuran yang masif dan 2016 ini kita serius menata masalah integritas jadi tingkat kejujuran untuk mencerminkan kinerja yang sebenarnya," ujarnya di Gedung Kemendikbud Lantai 2, Jakarta Pusat, Senin (9/5).

Anis juga menambahkan, faktor lain menurunnya nilai rata-rata UN ini disebabkan sudah banyak yang beralih dari ujian berbasis kertas dan pensil menjadi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Selain itu, kisi-kisi ujian yang diberikan kepada siswa tidak lagi rinci hanya terkait soal ujian. Hal ini guna murid SMA memahami apa yang ada dalam kurikulum.


Faktor lainnya, tambah Anies, kemungkinan karena UN tidak lagi dijadikan sebagai syarat kelulusan siswa. "Kita ingin meniadakan faktor terakhir ini, dipastikan karena kejujuran dengan menggunakan UNBK yang bisa dipastikan kejujurannya,"tambahnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari keluarnya hasil UN SMA Sabtu (7/5), nilai rata-rata UN yang diikuti SMA mengalami penurunan menjadi 54,78 yang artinya turun menjadi 6 point. Sedangkan, untuk SMK memiliki nilai rata-rata 57,66 yang tandanya turun menjadi 4 point.

Dalam kecurangan sistematik atau terstruktur untuk SMA jurusan IPA alami penurunan dari tahun sebelumnya, yakni 41,7 persen dari 4.880 sekolah dibandingkan tahun 2015 dari 7.041 sekolah dengan persentase 56,6 persen. Sedangkan kecurangan individu meningkat di tahun 2016 dari 26,9 persen dari 3351 tahun 2015 menjadi 45,5 persen dari 5.322 sekolah namun memiliki hasil ujian tidak memuaskan.

Sama halnya dengan SMA jurusan IPS yang alami penurunan pada kecurangan sistematis dari 6.219 sekolah alami penurunan nilai menjadi 37,8 persen. Sedangkan, kecurangan individu dilakukan di 7.504 sekolah meningkat menjadi 45 persen dengan nilai ujian tidak memuaskan.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Nizam, menambahkan meskipun nilai ujian alami penurunan namun indeks integritas alami peningkatan. Hal ini tak lain karena kerja sama dari pihak kepala sekolah yang tidak lagi melakukan kecurangan.

"Secara garis besar menurun (nilai rata-rata) namun indeks integritas meningkat," paparnya.

Data per provinsi yang diperoleh secara garis besar, Nizam menambahkan dari 34 provinsi, indeks integritas yang alami kenaikan terdapat di 24 provinsi. Meski begitu masih terdapat penurunan di sisa provinsi. Salah satu upaya yang akan terus dikembangkan adalah dengan melakukan kampanye integritas sekolah sebagai zona jujur. (den)