Penolakan itu diutarakan Ade Komarudin, Airlangga Hartarto, Priyo Budi Santoso, Mahyudin, Aziz Syamsudin, Indra Bambang Utoyo, dan Syahrul Yasin Limpo.
Ade mengatakan, pemilihan secara terbuka akan menimbulkan potensi intimidasi terhadap pemilik suara. "Saya menolak keras upaya yang mengarah ke pemberlakuan pemilihan secara terbuka," ujarnya di Bali, Minggu (15/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serupa, Priyo memaparkan, merujuk pengalamannya mengikuti pemilhan ketua umum Golkar, voting secara tertutup selama ini selalu menjadi mekanisme yang digunakan partai berlambang beringin itu.
"Itu menyalahi pakem demokrasi," ujarnya.
Syahrul Yasin Limpo mengaku heran dengan wacana pemilihan secara terbuka yang kembali menguat. Menurutnya, itu tidak sesuai dengan prinsip penyelenggaraan munaslub, yakni demokratis, rekonsiliatif dan transparan.
"Asas utama demokrasi adalah kebebasan. Itu tercermin dari pemilik suara yang terlepas dari intimidasi, tekanan dan bebas menentukan siapa yang ingin dipilihnya," kata Syahrul.
Setya Novanto tercatat sebagai satu-satunya bakal calon ketua umum Golkar yang tidak mendorong pemilihan secara tertutup. Mantan Ketua DPR itu beralasan, ia akan menghormati apapun keputusan peserta munaslub terkait metode pemilihan.
Sebelumnya, Ketua Komite Pemilihan Munaslub Golkar, Rambe Kamarulzaman, mengatakan pemilihan ketua umum akan dilakukan secara tertutup.
Namun ia berkata, mekanisme itu dapat berubah sesuai dengan kesepakatan para peserta munaslub. (abm)