Dosen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Rocky Gerung bahkan berpendapat negara telah gagal mencapai reformasi.
Kegagalan dalam merawat ide awal reformasi, kata dia, dapat dilihat dari sejumlah pembatasan yang marak terjadi di berbagai daerah belakangan ini. Misalnya pelarangan buku soal paham komunisme hingga pembakaran bangunan milik kelompok minoritas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu yang kemudian disebut kemunduran reformasi. Kalau pemerintah cuma menyesalkan tapi tidak melakukan apa-apa ya sama saja," ujar Rocky di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang, Senin (23/5).
Rocky menganalogikan pelanggaran etik oleh politikus dengan dokter yang melakukan malapraktik. Sang dokter biasanya tak hanya menerima sanksi profesi, tapi juga sanksi dari para pasien yang tak lagi percaya kepadanya.
"Tapi (kasus Setya) ini seperti orang yang dari awal cacat namun justru ditampung ulang. Ya orang enggak akan percaya lagi (pada Golkar)," kata Rocky.
Pelarangan diskusi hingga pembakaran buku dengan paham tertentu, menurut Saidiman, adalah wujud kelalaian negara dalam melindungi hak berekspresi warganya.
"Pelarangan itu jadi contoh kualitas demokrasi yang menurun. Jika kasus-kasusnya semakin besar, bisa menghancurkan demokrasi dan prinsip reformasi yang sejak awal telah diusung. Itu harus diwaspadai," kata dia.