Setya Diminta Contoh Akbar dan Prabowo Jika Ingin Sukses 2019

Abi Sarwanto, CNN Indonesia | Jumat, 27/05/2016 21:15 WIB
Setya Diminta Contoh Akbar dan Prabowo Jika Ingin Sukses 2019 Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto memberikan keterangan pers usai terpilih di Munaslub, Bali Nusa Dua Convention Center, Selasa (17/5). (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti senior PARA Syndicate FS Swantoro meminta Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto untuk mencontoh dua sosok seniornya yakni Akbar Tandjung dan Prabowo Subianto jika ingin eksis dalam pemilihan umum 2019.

"Untuk Setya Novanto, jika ingin eksis pada Pemilu 2019, saya mengambil role model Akbar Tandjung dan Prabowo Subianto," kata Swantoro dalam diskusi di PARA Syndicate, Jakarta, Jumat (27/5).

Swantoro berkata, baik Akbar dan Prabowo memiliki catatan sejarah di tubuh partai berlambang beringin. Keduanya berhasil melewati tiga fase perpolitikan yang dapat menjadi contoh bagi Setya.


Akbar, ujar dia, ketika memenangkan kursi Ketua Umum Golkar pada 1998 membawa beban berat dengan menanggung 'dosa' di masa Orde Baru. Swantoro menyebut, masa itu merupakan fase negatif bagi Akbar.

Lantas, Akbar mengalami fase netral dan positif saat membuat terobosan dengan menggelar konvensi calon ketua umum Golkar pada 2003. Dimana, hasilnya terlihat pada 2004, saat Golkar yang dipimpin Jusuf Kalla sebagai ketua umum, memenangkan pemilu legislatif dengan perolehan 24,4 persen atau 128 kursi di DPR mengalahkan PDI Perjuangan.

Sedangkan, Prabowo Subianto, lanjutnya, mengalami fase negatif ketika Peristiwa Mei 1998. Saat itu, Prabowo yang menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus disebut menjadi salah satu dalang penculikan terhadap aktivis pro reformasi.

Namun, Swantoro berkata, karier Prabowo kembali pada fase netral saat dirinya mengikuti konvensi calon ketua umum Golkar, meski tidak menang. Setelah keluar dari Golkar dan mendirikan Gerindra, Prabowo dianggap berhasil menaikan posisi partai tersebut dalam pemilihan legislatif 2014.

Dengan demikian, kata dia, jika Setya mampu mencontoh dua seniornya tersebut suara Golkar dalam Pemilu masih memiliki harapan di angka 14-16 persen. Namun, dia mengingatkan bahwa Golkar kini tidak memiliki kekuatan pemilih dari kalangan birokrat dan militer seperti halnya saat orde baru.

"Ke depan, saya punya keyakinan ada dua kemungkinan pada 2019. Seandainya Setya dapat melakukan seperti Akbar dan Prabowo, Golkar masih punya harapan. Kalau tidak, akan susah," ujar dia.

Sementara itu Ketua Bidang Penggalangan Opini dan Media Golkar Nurul Arifin, mengatakan target dari kepengurusan baru yang dipimpin Setya, mampu mendulang 20 persen suara pada Pemilu 2019. Sebab walaupun sudah ditinggalkan birokrat dan militer, Golkar masih memiliki pemilih tradisional dan keturunannya yang loyal.

"Kami punya jargon Golkar bangkit, jaya dan menang, dengan target 20 persen. Jadi supaya motivasi jalan terus, harus pasang target tinggi. Kalau lihat internal, kelompok tradisional yang militan masih banyak," tutur dia.

Selain itu, Nurul berkata kepengurusan baru akan segera melakukan konsolidasi ke daerah-daerah sebagai bagian dari program 100 hari yang dicanangkan Setya Novanto. Hal ini, menurutnya, untuk merekatkan kader di daerah sekaligus inventarisasi calon kepala daerah potensial.

(obs/obs)