Gelombang Tinggi, Nelayan Diimbau Tak Melaut

Suriyanto, CNN Indonesia | Jumat, 10/06/2016 08:11 WIB
Gelombang Tinggi, Nelayan Diimbau Tak Melaut Nelayan diimbau tidak melaut karena adanya gelombang tinggi di sejumlah wilayah. (ANTARA FOTO/Noveradika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nelayan Kabupaten Lebak, Banten diimbau tidak pergi melaut karena gelombang tinggi. Gelombang tinggi selama beberapa hari terakhir mengakibatkan banjir rob hingga 30 meter dari bibir pantai.

"Kami mengimbau nelayan sebaiknya tidak melaut karena terjadi banjir rob akibat gelombang pasang," kata Kepala Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Binuangeun Kabupaten Lebak, Akhmad Hadi seperti diberitakan Antara.

Ia meminta warga yang berada di pesisir Lebak meningkatkan kewaspadaanya. Saat ini, ketinggian banjir rob mencapai 70 centimeter dan belum melimpah ke permukiman warga setempat.


Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Kaprawi mengatakan banjir rob itu akibat gelombang pasang perairan pesisir pantai selatan.

Menurutnya, hampir seluruh wilayah pesisir pantai selatan Banten dilanda banjir rob. Saat ini, ketinggian gelombang pesisir pantai selatan mencapai 4,5 meter dan angin cukup kencang.

"Kami mengingatkan warga pesisir berhati-hati adanya gelombang tinggi yang mengakibatkan banjir rob," katanya.

Dari Kulon Progo, Yogyakarta, BPBD menetapkan siaga 1 gelombang pasang. Kepala BPBD Kulon Progo, Gusdi Hartono mengatakan, saat ini gelombang laut mencapai tujuh meter.

"Kami telah menerima pemberitahuan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta yang menyatakan gelombang pantai selatan sangat tinggi hingga empat hari ke depan," katanya.

Dampak gelombang tinggi ini dirasakan di empat wilayah selatan Kulon Progo, di antaranya Pantai Trisik, Bugel, Glagah, dan Congot.

Di daerah Bugel, gelombang pasang merusak lahan pertanian, warung-warung, dan menara mercusuar. Di Trisik tujuh perahu terkena ombak dan rusak, lima tambak juga kena tapi udangnya bisa diamankan, sedangkan di Glagah merendam lapak-lapak pedagang. Ada puluhan lapak dan kios yang terendam.

"Kami terus memantau, kami tidak bisa berbuat banyak. Saat ini hanya mencoba mengantisipasi jangan sampai ada korban jiwa, dan kalau bisa mengurangi nilai kerugian material," katanya.

Ketua Taruna Siaga Bencana, Dinas Sosial Yogyakarta, Doni Kristanto mengatakan, sejak hari Rabu kemarin, suah dilakukan pemantauan di seluruh pantai di Yogyakarta meliputi Gunung Kidul, Bantul, dan Kulon Progo.

Sampai saat ini, tidak ada korban jiwa, sedangkan gelombang pasang baru merusak bangunan fisik dan menyebabkan kerugian materiil.

"Tingkat kerusakan nyaris sama seperti di Gunung Kidul dan Bantul, ombak merusak warung-warung di tepi pantai, peralatan nelayan, dan menyebabkan abrasi garis pantai," katanya.

Sementara dari Garut, Jawa Barat, Nelayan memilih mengamankan perahunya masing-masing dengan menaikannya ke daratan. Para nelayan khawatir perahunya rusak terkena terjangan ombak besar. Pantai selatan Garut merupakan salah satu kawasan yang diterjang gelombag tinggi.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Garut Lukman Nurhakim mengatakan, sepanjang pantai selatan Garut diterjang gelombang pasang sejak beberapa hari terakhir. Tercatat sudah belasan perahu nelayan rusak.

Menurut Lukmna, karena cuaca tak bersahabat ini, nelayan memilih untuk beristirahat dari melaut. Ia berkata, peristiwa air pasang ini lebih parah dibandingkan gelombang pasang tiga tahun lalu yang melanda pantai laut selatan Garut. (Antara/sur)