Banjir Rob dan Gelombang Pasang Hantam Pesisir Jawa-Bali

Raja Eben Lumbanrau, CNN Indonesia | Kamis, 09/06/2016 16:46 WIB
Banjir Rob dan Gelombang Pasang Hantam Pesisir Jawa-Bali Seorang petugas BPBD memperingatkan warga agar segera meninggalkan rumah yang terendam banjir rob di Kelurahan Tegal Kamulyan, Cilacap Selatan, Cilacap, Jateng, Kamis (9/6). Ratusan rumah terendam banjir rob di Kabupaten Cilacap akibat gelombang pasang setinggi 5 meter, hingga menghancurkan tanggul penahan gelombang sepanjang 500 meter. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/ama/16)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bumi, bulan, dan matahari berada dalam satu garis lurus (spring tide). Tinggi muka air laut di wilayah Indonesia mengalami anomali positif sebesar 15-20 sentimeter. Pusat tekanan tinggi subtropis di barat daya Australia pun membangkitkan penjalaran alun (swell). Tiga hal tersebut menyebabkan banjir rob dan gelombang pasang terjadi di beberapa wilayah pesisir Indonesia.

Menurut data Posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terdapat 23 kabupaten atau kota di Pulau Jawa yang terserang banjir rob dan gelombang pasang.

Daerah tersebut adalah Kulon Progo, Gunung Kidul, Bantul, Tasikmalaya, Pangandaran, Cilacap, Pekalongan, Purworejo, Wonogiri, Semarang, Pacitan, Banyuwangi, Jember, Trenggalek, Malang, Tulungagung, Lumajang, Gresik, Tuban, Surabaya, Pemekasan, Probolinggo, dan Jakarta.


Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Indonesia Sutopo Purwo Nugroho, gelombang pasang dan banjir rob menimbulkan kerugian ekonomi hingga miliaran rupiah. Untungnya, peristiwa tersebut tidak merenggut korban jiwa.


"Di daerah pesisir selatan Jawa, ratusan bangunan meliputi rumah, gazebo, warung, talud pantai, dan bangunan di pantai mengalami kerusakan," kata Sutopo dalam keterangan tertulis, Kamis (9/6).

Menurut data BNPB, 300 jiwa anak-anak dan perempuan di Lumajang mengungsi. Sebanyak 891 jiwa masyarakat mengungsi di 11 titik pengungsian di Kabupate Pekalongan. Di Kecamatan Tirto, Wiradesa, Wonokerto, dan Siwalan sekitar 5.937 unit rumah terendam banjir rob.


Bukan hanya itu, 15 kawasan wisata pantai di pesisir selatan Yogyakarta pun mengalami kerusakan akibat gelombang laut setinggi lima hingga tujuh meter.

Di kawasan wisata pantai di Gunung Kidul terdapat 101 gazebo, 21 warung, 3 bangunan SAR, dan beberapa talud yang rusak. Lalu, di Kulon Progo, kerusakan meliputi 54 warung, 7 perahu, 5 tambak udang dan beberapa bangunan wisata. Di Bantul kerusakan meliputi 30 warung, perahu, dan posko.

Untuk itu, BNPB mengimbau kepada masyarakat pesisir Indonesia untuk selalu waspada, hati-hati, dan mengikuti semua aturan yang ada. 

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yunus S Swarinoto mengatakan gelombang tinggi dan banjir rob di pantai selatan Pulau Jawa akibat dari anomali positif tinggi muka air laut yang diperkuat swell dari barat daya Australia. Sedangkan, gelombang tinggi dan banjir rob di pantai utara Pulau Jawa disebabkan oleh spring tide dan anomali positif tinggi muka air laut.

"Potensi gelombang tinggi ini masih akan terjadi hingga lima hari ke depan, di beberapa wilayah," kata Yunus dilansir dari Antara (7/6).

Pengunjung Pantai Kuta Diminta Tak Berenang

BMKG Wilayah III Denpasar, Bali mengimbau pengunjung Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Bali, untuk tidak melakukan aktivitas di sepanjang pantai, seperti berenang.

"Para nelayan dan wisatawan diimbau untuk hati-hati, waspada, dan tidak berenang karena ombak pasang di pantai Kuta," kata petugas BMKG Denpasar A A Putra Wirawan dilansir Antara, Jumat (9/6).

Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Kabupaten Badung pun telah memasang bendera tanda bahaya di sejumlah titik.

Pantai Kuta terletak di selatan Pulau Bali dan masuk dalam wilayah yang berpotensi banjir rob dan gelombang pasang.

Berdasarkan perkiraan BMKG, gelombang tingggi 2,5 hingga 4 meter berpotensi terjadi di Laut Andaman, Perairan utara dan barat Aceh, Perairan barat Kepulauan Simeulue hingga Kepulauan Mentawai, Perairan Bengkulu, Samudera Hindia barat Aceh hingga Bengkulu, Selat Bali bagian selatan, Perairan selatan Sumbawa hingga P. Sumba.

Gelombang setinggi 4 hingga 6 m berpotensi terjadi di Perairan Enggano, Perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, Perairan selatan Jawa hingga Lombok, Samudera Hindia selatan Bengkulu hingga NTT.






(rel/rel)