Hasil studi tersebut memaparkan hampir sepertiga populasi Orang Rimba menghidap penyakit menular Hepatitis B.
Prevalensi hepatitis B pada Orang Rimba sebesar 33,9 persen. Dengan kata lain, 4 dari 10 Orang Rimba mengidap penyakit Hepatitis B.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, Sandra meminta Pemerintah Jokowi agar segera mengatasi dan menemukan akar masalah ini.
Lihat juga:Pendidikan Mengubah Anak-Anak Rimba |
Komnas HAM juga terus berupaya membangun koordinasi dengan Pemerintah Jokowi terkait perlindungan hak kesejahteraan hidup suku pedalaman Orang Rimba.
Komnas HAM kini tengah berkoordinasi bersama kementerian terkait seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam upaya penanggulangan masalah kesehatan dan hak hidup layak Orang Rimba ini.
"Kami masih dalam proses pemantauan pada beberapa aspek. Setelah (pemantauan) rampung, rencananya kami undang Kemenkes dan Kemensos untuk penanggulangan kasus ini," kata Sandra.
"Kami juga sedang mempersiapkan pemantaupan pada Suku Togutil/Tobelo Dalam di Halmahera Utara dan beberapa suku pedalaman lainnya di Papua," tambahnya.
Apa yang terjadi kepada Orang Rimba, menurut Sandra, merupakan bukti nyata bahwa jaminan pemerintah terhadap perlindungan atas hak dasar hidup seperti akses pendidikan, tempat tinggal, dan khususnya kesehatan pada masyarakat adat pedalaman belum memadai.
"(Jaminan pemerintah terhadap hak dasar adat masyarakat adat) belum memadai, masih jauh dari memadai," ujar Sandra.
Lihat juga:Arti Buku Bagi Anak-Anak Rimba |
Selain Hepatitis B, hasil studi kesehatan tersebut juga menemukan tingginya prevalensi penyakit Malaria pada Orang Rimba yakni sebesar 24,26 persen.
Hasil itu, menurut Herawati, merupakan hasil studi tertinggi dari studi serupa yang dilakukan di daerah lain.
Tingginya prevalansi Hepatitis B dan Malaria pada komunitas Orang Rimba, di Jambi mencerminkan masih minimnya akses kesehatan bagi masyarakat adat pedalaman. (rel)