Menurut Aradila, dalam kurun waktu tahun 2003-2016, terdapat 12 perkara korupsi dengan jumlah 35 pelaku pada sektor kehutanan yang telah atau sedang ditangani oleh KPK. Dari 35 pelaku, 34 orang telah divonis dan satu orang masih bersatus tersangka.
Namun hanya dua terdakwa saja yang berhasil dijatuhkan vonis berat dengan masa kurungan lebih dari 10 tahun penjara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aradila menyatakan, vonis hukuman bagi para pelaku ini sayangnya masih belum sesuai dengan kerugian negara yang jauh lebih besar dari vonis hukuman yang dijatuhkan. Kerugian negara akibat korupsi kehutanan ditengarai mencapai Rp2,2 triliun dengan nilai suap sekitar Sin$17 ribu atau Rp8,6 miliar.
Nilai tersebut, lanjut Ardila, didapat dari perhitungan selisih nilai antara potensi penerimaan negara yang berasal dari dana reboisasi (DR) dan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dikurangi pendapatan negara yang diterima. "Negara seharusnya memperoleh Rp217,6 triliun dari pembukaan 8 juta hektare perkebunan sawit. Nyatanya, selama ini Kementerian Kehutanan hanya memperoleh sekitar Rp47,8 triliun," tambahnya.
Ardila mengharapkan ada peran dan aksi lebih dari KPK untuk mendalami dan menegaskan penanganan perkara korupsi khsusnya dalam sektor kehutanan. Penanganan perkara korupsi kehutanan oleh KPK selama ini dinilai belum benar-benar menjerat para koruptor terlebih membuat jera koorporasi secara langsung.
Hal ini disebabkan karena maraknya perkara korupsi kehutanan terjadi dalam cakupan tingkat pengadaan proyek serta perijinan wilayah. Kedua hal ini, tutur Ardila merupakan motif korupsi yang memang sulit dibuktikan karena seringkali bersifat transaksional dan tertutup.
"Selama ini, hukuman vonis hanya mencakup individu pelakunya saja. Jarang (vonis hukuman korupsi) yang benar-benar mencakup para pelaku beserta perusahaannya. Ini perlu dibenahi," kata Ardila. (rdk)