Kepala Bagian Protokol dan Pelayanan Masyarakat Masjid Istiqlal, Abu Hurairah Abdul Salam, mengatakan pengeluaran uang untuk takjil meningkat seiring melonjaknya jumlah umat yang datang ke masjid itu selama bulan puasa.
Abu berkata, lembaganya menyediakan makanan dan minuman untuk berbuka puasa bagi empat ribu umat setiap hari. Jumlah itu, kata dia, meningkat sekitar seribu umat dibandingkan ramadan tahun 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyediaan takjil di Masjid Istiqlal selama ramadan tahun 2016 disebut Abu mencapai Rp75 juta per hari. Pengeluaran itu besar karena pengelola masjid mengganti menu berbuka dengan memesan paket nasi padang dari Rumah Makan Sederhana.
Penghematan
Abu berucap, Kementerian Agama belum menyalurkan alokasi anggaran untuk Masjid Istiqlal sebesar Rp6 miliar. Awalnya, anggaran itu berjumlah Rp15 miliar, namun terpotong seiring penerbitan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2016.
Inpres tersebut mengatur tentang penghematan dan pemotongan anggaran belanja kementerian dan lembaga negara.
Menurut Abu, alokasi anggaran yang disediakan Kemenag tidak akan mampu menutup seluruh biaya pengeluaran Masjid Istiqlal. Ia berkata, tagihan listrik dan air selama tiga bulan dapat mencapai Rp1 miliar.
"Dana sebesar itu tidak cukup. Yang masuk ke Masjid ini banyak, yang mandi pun banyak di dalam Masjid. Ketika ada kegiatan demo di Istana Negara, banyak orang yang setelahnya datang untuk sekedar mandi di sini," tuturnya. (abm)