“Urusannya apa? Itu (IPT 1965) kan bukan institusi resmi,” kata Luhut di kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (21/7).
Pengadilan yang digelar untuk menyelidiki Tragedi 1965 itu digagas oleh Yayasan International People's Tribunal 1965 yang didukung para aktivis internasional. Luhut menyebut IPT 1965 sebagai lembaga swadaya masyarakat, dan karenanya tak bisa memengaruhi keputusan pemerintah suatu negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Ketua IPT 1965 Saskia E Wieringa menyatakan putusan pengadilan yang digelar di Nieuwe Kerk, Den Haag, pada 10-13 November 2015 itu merupakan hal penting untuk dipertimbangkan pemerintah Indonesia.
“Kami akan memohon kepada Dewan HAM PBB untuk menegur Indonesia karena bagaimanapun Indonesia telah menandatangani Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik," kata Saskia kepada CNNIndonesia.com.
“Kami akan terus berupaya agar Indonesia bergerak dan melakukan rekomendasi putusan hakim. Kami berharap Indonesia melakukan sesuatu lewat Kejaksaan Agung dan Komnas HAM,” ujar Saskia.
Profesor Antropologi Budaya dari Universitas Amsterdam itu mengatakan, untuk memajukan materi hasil putusan IPT 1965 ke PBB perlu dukungan dari dua negara karena IPT 1965 bukan lembaga negara. Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengajukan putusan pengadilan ke PBB melalui lembaganya.
Meski demikian, Saskia optimistis banyak negara akan memberikan dukungan.
Koordinator IPT 1965 Nursyahbani Katjasungkana mengatakan, lembaganya akan memilih perwakilan dari negara-negara Skandinavia yang memberikan penghormatan tinggi terhadap HAM, dan mencoba menggalang dukungan dari perwakilan negara Asia dan Afrika Selatan.
“Kami lobi mereka agar PBB mengagendakan ini dalam sidangnya,” kata Nusryahbani.
Ada tiga rekomendasi dari hasil putusan IPT 1965. Pertama, pemerintah Indonesia agar segera dan tanpa pengecualian meminta maaf pada semua korban, penyintas dan keluarga mereka atas tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh negara dan tindakan kejahatan lainnya yang dilakukan negara terkait Peristiwa 1965.
Kedua, menyelidiki dan menuntut semua pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan. Ketiga, memastikan akan ada kompensasi dan ganti rugi setimpal bagi semua korban dan penyintas. (agk)