Pimpinan Ombudsman Alamsyah Saragih menyampaikan temuan tersebut ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang diwakili oleh Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat.
Dalam penelitian selama dua bulan di lima koridor Transjakarta, setidaknya ada 10 temuan yang memperlihatkan buruknya pelayanan Transjakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Toilet bahkan tidak ditemukan di halte-halte transit atau central yang biasanya mengalami penumpukan penumpang.
Jembatan penyeberangan Transjakarta juga dianggap berbahaya bagi pengguna. Itu karena tangga penyeberangan yang curam dan menjadi licin saat diguyur hujan.
Satu hal yang menurut Ombudsman menjadi masalah utama Transjakarta adalah masih banyak armada bus yang tak nyaman untuk penumpang. "Masih terdapat bus yang tak layak dan tak nyaman untuk digunakan" kata Alamsyah.
Untuk masalah jeleknya armada, Budi menegaskan saat ini beberapa armada di sejumlah koridor sudah mengalami perbaikan. Bus-bus lama berwarna abu-abu sudah tak lagi menghiasi jalur Transjakarta.
"Sejak Januari kami sudah memberhentikan pengoperasian 200 bus yang tak layak," kata Budi.
Sementara untuk permasalahan halte dan jembatan, Budi mengatakan tak semua fasilitas di sana bisa ditangani oleh PT Transjakarta karena harus berkoordinasi dengan dinas terkait.
Masalah jembatan, misalnya, harus berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Transportasi. Masalah lampu berhubungan dengan Dinas Energi, sedangkan CCTV harus dikoordinasikan dengan Dinas Komunikasi dan Informasi. (wis)