Surat Rahasia Mata-mata Belanda tentang Tirto

Rosmiyati Dewi Kandi, CNN Indonesia | Senin, 22/08/2016 12:06 WIB
Surat Rahasia Mata-mata Belanda tentang Tirto Ilustrasi. (CNN Indonesia/Fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kematian Penasihat untuk Urusan Pribumi Dr DA Rinkes tahun 1954 membuat sejumlah dokumen berlabel sangat rahasia, rahasia, dan biasa terungkap. Dokumen milik Hindia Belanda itu mengungkap tindakan yang dilakukan kekuasaan kolonial Belanda terhadap perintis pers Indonesia Raden Mas Tirto Adhi Soerjo.

Mengutip Sang Pemula karya Pramoedya Ananta Toer, surat-surat rahasia tersebut membeberkan sejumlah laporan penting Rinkes kepada pemerintah kolonial Belanda tentang pandangan dia terhadap gerak-gerik Tirto bersama Medan Prijaji.

Surat berlabel rahasia Rinkes kepada Gubernur Jenderal AWF Idenburg tertanggal 19 Februari 1912 menjelaskan, Tirto dibuang ke Telukbetung, Lampung, selama dua bulan lantaran memfitnah seorang aspiran kontrolir. Surat Rinkes itu juga menyebut Tirto mengirimkan surat-surat kepada Medan Prijaji (MP) dari tempat pembuangan terkait penyalahgunaan paling aneh yang terjadi di Telukbetung.



Menurut Rinkes di surat rahasianya, setiap orang yang terpelajar harus menyingkirkan informasi tentang penyalahgunaan itu. Meskipun, diakui juga oleh Rinkes, penyalahgunaan itu mungkin saja terjadi di wilayah Hindia Belanda yang begitu luas.

“Namun pembaca biasa dari tulisannya melihat ada pemerasan yang tercela, penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan yang keji yang dilakukan oleh orang Eropa terhadap diri mereka,” tulis Rinkes.

Lebih dari itu, surat Rinkes juga berisi kekhawatiran mengenai keberadaan Medan Prijaji—yang digunakan Tirto untuk menguasai pendapat umum dan melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Rinkes menyebut Medan Prijaji sebagai “berkala yang di kalangan setengah-terpelajar cukup terpandang dan menjadi alat modern untuk menyatakan keluh kesah.”


Dari surat tersebut terlihat jelas bahwa Rinkes banyak mengetahui tentang MP dan sepak terjang Tirto. Rinkes mengatakan, MP lahir sebagai mingguan, sebelum akhirnya menjadi harian dengan pelanggan mencapai 2 ribu orang.

“Untuk harian Eropa di Hindia pun sudah merupakan jumlah bagus, lebih-lebih untuk harian Melayu, namun pasti bukan suatu yang dilebih-lebihkan yang tidak penting, dan uang langganan hanya sebagian yang dilunasi dan itu pun sangat tidak berarturan,” tulis Rinkes.

Kepada Idenburg, Rinkes menggambarkan bahwa Tirto merupakan sosok yang tahu betul bagaimana menggunakan media sebagai sarana mengkritik pemerintah, termasuk segala peraturan dan ketentuan yang dibuat saat itu. Artikel-artikel yang ditulis Tirto disebut berani, tegas, dan mengesankan kepada pembaca bahwa keberadaan MP memang untuk memperjuangkan kepentingan mereka.

Bukan hanya pergerakan Tirto lewat tulisan, Rinkes juga menjelaskan secara rinci siapa-siapa saja yang ada di ruang redaksi MP, sisi administrasi MP sebagai perusahaan di bawah naungan Javasche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfbohoeften (NV), pengelolaan perusahaan, hingga urusan percetakan berkala tersebut.


“Diserang dengan keras pemerintah dan para pegawai pemerintah, peraturan pemerintah dihajar dan dalam pada itu memengaruhi lingkungan setengah terpelajar dengan bujukan, dengan mendesakkan perbaikan nasib dan lain-lain semacamnya,” tulis Rinkes.

Dalam hal pengelolaan, Rinkes menyatakan dalam surat rahasianya, Tirto sepenuhnya tidak memiliki kesadaran ekonomi dalam mengatur perusahaan sehingga timbul pertanyaan soal kemungkinan Tirto melakukan penipuan. Tirto juga dianggap tidak memiliki kemampuan sehingga membawa MP akhirnya pada jurang kehancuran.

Menurut Pram, Rinkes tidak menyukai ada pribumi yang memiliki kepercayaan diri dan dinilainya sombong. Untuk itu, pribumi tersebut harus ditundukkan dan dijatuhkan martabatnya di hadapan publik.

Rinkes lahir tahun 1878, dan pada 1903-1905 dia menjabat pegawai pangreh praja di Hindia hingga kariernya terus menanjak menjadi Ajun Penasihat Pemerintah untuk Urusan Pribumi mendampingi Dr G.A.J Hazeu. Pada 1913, Rinkes menggantikan posisi Hazeu yang dipromosikan menjadi Direktur Pengajaran. Rinkes juga sempat menjabat Direktur Commissie voor de Volkslectuur (Balai Pustaka) tahun 1927.


Terkuburnya masa jaya Tirto terlihat dalam surat rahasia Rinkes tertanggal 7 Juni 1915 kepada Idenburg. Bagi Rinkes, Tirto yang kembali dari pembuangan di Ambon sudah tak lagi memiliki posisi penting dalam pers pribumi.

“Secara sepintas ia mengatakan bahwa Tirto bepergian mondar mandir ke sana ke mari dan sebagai agitator juga di belakang layar. Peranannya sudah tumpas,” tulis Pram.

Pram menjelaskan, Tirto mencoba bangkit, namun sia-sia. Namanya hancur karena dia merasa melakukan pelanggaran etik jurnalistik.

“Mungkin selain Pengadilan Betawi tak ada yang tahu, tetapi nuraninya sendiri tak bisa dikelabui,” kata Pram dalam Sang Pemula. (rdk/obs)