Kisah Kebingungan Pramoedya Ananta Toer Soal Tirto

Rosmiyati Dewi Kandi, CNN Indonesia | Senin, 22/08/2016 10:01 WIB
Kisah Kebingungan Pramoedya Ananta Toer Soal Tirto Pramoedya Ananta Toer. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada syair sederhana yang ditulis sekitar tahun 1950-an mengisahkan pendiri Medan Prijaji, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Bertahun-tahun kemudian, penulis dan sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer menerbitkan buku bertajuk Sang Pemula, yang mengungkapkan sepak terjang Tirto sebagai perintis pers pribumi pada dekade 1900-an.

Tirto lahir di Blora, dan menghabiskan masa kecil di Bojonegoro bersama kakeknya, di Rembang bersama kakaknya, dan di Madiun bersama sepupunya. Keempat wilayah tersebut saat itu merupakan kawasan hutan jati yang sangat luas dan menghasilkan jati kelas nomor satu untuk komoditas internasional.

“Jenis kelas satu pun tidak boleh dipergunakan oleh pribumi. Aneh sekali bahwa praktis ia tidak pernah bicara tentang jati,” tulis Pram dalam Sang Pemula.


Mengutip situs resmi Kabupaten Bojonegoro, jati memang sudah lama tumbuh di wilayah itu dan bahkan hingga kini menjadi tanaman khas kabupaten itu. Hampir 40 persen luas lahan Bojonegoro ditanami jati.

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, mereka membangun rel hingga ke pelosok bagian selatan Bojonegoro untuk mengangkut kayu jati. Jati berusia tua ditebang dan dibawa ke Eropa melalui pelabuhan di Semarang.


Di Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, masih dapat ditemukan rel tua bekas kereta api yang dibangun Belanda. Kayu-kayu jati Bojonegoro, juga Blora, telah menjadi kebutuhan utama Eropa karena revolusi industri di benua tersebut sedang marak.

Selain jati, kebingungan lain Pram ialah karena Tirto tidak pernah menulis kisah perlawanan gerakan Samin oleh masyarakat Bojonegoro yang berlokasi di Blora. Gerakan ini dipelopori oleh Soerosamin.

“Juga mengherankan bahwa ia, yang telah membela ratusan orang desa, tidak pernah bicara tentang kaum Samin, yang pada tingkat awal telah melakukan perlawanan bersenjata. Perlawanan Samin, yang kemudian berubah menjadi pembangkangan sosial mulai 1912 sampai 1942, mestinya pernah dipikirkannya,” tulis Pram.


Sistem pemberontakan Samin bersifat mistik religius, yang ingin membebaskan diri dari segala campur tangan kolonial. Peradaban masyarakat Samin banyak terdapat di Desa Tapelan, Kecamatan Ngraho, sejak tahun 1900-an.

Revolusi industri di Eropa, telah berdampak siginifikan di tanah Hindia Belanda. Kala itu, kebutuhan kayu untuk bangunan rumah dan industri sangat diminati bangsa Eropa, termasuk dan terutama Belanda.

Selama puluhan tahun, Belanda menghabisi jati Blora dan Bojonegoro tanpa ada perlawanan hingga pada awal abad ke-18, benih perlawanan itu muncul. Hal itu dimulai dari kemunculan Raden Kohar atau disebut Samin Surosentiko yang lahir di Klopoduwur, Blora, tahun 1859.


Dia berjuang kerjas menyebarkan ajaran Samin yang geram lantaran Belanda tak berhenti menguras kayu jati. Samin juga menolak membayar pajak. Perjuangannya tidak hanya di Bojonegoro, tetapi juga Blora, Rembang, Pati hingga Kudus.

Perjuangan Samin berakhir ketika pemerintah kolonial Belanda menculik Samin dan sejumlah pengikutnya, lalu dibuang ke Padang. Tahun 1914, Samin meninggal dunia di tempat pembuangannya.

Satu keanehan lainnya, tulis Pram, Tirto tidak pernah bicara tentang Bengawan Solo. Sungai ini disebut Pram menjadi urat nadi pembangunan ekonomi masa itu, menyuburkan produksi pertanian, dan hutan.

Pram menulis, “Semua ini menjadi petunjuk bahwa semasa kecil ia tidak akrab dengan lingkungannya. Kemungkinan itu semakin jelas waktu ia pindah ke Batavia dan meneruskan ke sekolah dokter.”

Bengawan Solo kala itu memang menjadi transportasi utama Rajekwesi-Babad-Lamongan-Surabaya. Rajekwesi adalah nama awal sebelum diubah menjadi Bojonegoro oleh Belanda.


Cicit Tirto, Raden Mas Joko Prawoto Mulyadi atau biasa disapa Okky Tirto, mencoba menjawab kebingungan Pram. Menurut Okky, Tirto bisa saja tidak menulis tentang kayu jati, perlawanan Samin, maupun Bengawan Solo lantaran saat itu masih terlalu muda untuk memahami situasi di lingkungan masa kecilnya.

Sementara Tirto yang tiba di Batavia, kata Okky, adalah Tirto yang beranjak remaja dan mulai mempertanyakan tindakan serta ketidakadilan yang dia lihat di sekitarnya. Tirto mulai tinggal di Batavia pada saat berusia 13-14 tahun dan melanjutkan sekolah ke School tot Opleiding van Indische Artsen/Stovia (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia).

“Kita tidak tahu masa kecil Tirto seperti apa. Mungkin kesadaran menulis Tirto baru muncul belakangan, sehingga yang dia tulis adalah hal-hal yang dia lihat saat itu, yang terjadi di Batavia,” tutur Okky saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Jumat (19/8).


Pram juga punya pandangan soal keberadaan Tirto di Batavia, “Nampaknya kepergiannya ke Betawi merupakan pembebasan dari semua ikatan dan peraturan ketat kasta bangsawan priyayi terhadap anggota keluarga yang miskin dan tidak berdaya.” (rdk/asa)