Rinaldy adalah asisten redaktur di CNN Indonesia. Berpengalaman meliput isu politik, kesejahteraan dan hukum sejak 2014, kini penulis yang akrab disapa Al bertugas di desk internasional.
LAPORAN KHUSUS
Terpaksa Berg(el)antung pada Bus Kota
Rinaldy Sofwan | CNN Indonesia
Kamis, 15 Sep 2016 11:45 WIB
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia -- Suara bising bus kota berwarna oranye itu mulai akrab dengan telinga saya sejak 2014, ketika saya memutuskan pindah ke Jakarta untuk bekerja.Menumpang Metromini bisa dikatakan sangat tidak enak, tapi sulit untuk melepasnya.
Lahir dan besar di Bandung, saya kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan hawa ibu kota yang menyengat. Parahnya, suhu di dalam bus uzur itu rasanya jauh lebih panas, bak dimasak dalam oven.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada jam sibuk, bus berukuran sedang itu bisa terisi penuh penumpang, hingga ke bagian pintu.
Keringat mengucuri sekujur tubuh saya yang berdiri berdempetan dengan para penumpang lain.
Ingar-bingar suara mesin terdengar, ditambah suara pengamen yang tak selalu senada dengan petikan gitarnya.
Kelihaian para copet sudah jadi pemandangan biasa di sini, dan saya sendiri pun beberapa kali hampir jadi korban trik licik mereka.
Saat itu saya pikir, saya benci bus kota dan tidak akan menaikinya lagi. Saya benci kota ini.
Terkadang saya juga bertanya-tanya, bagaimana bisa masyarakat Jakarta bertahan menggunakan bus itu.
Bus besar yang mempunyai lajur khusus itu tentu lebih banyak terhindar dari kemacetan (meski di ruas tertentu seperti Sudirman dan Semanggi terpaksa berbaur dengan kendaraan pribadi).
Otomatis, waktu tempuh dengan TransJakarta jadi lebih singkat. Selain itu, meski bus penuh pada waktu-waktu tertentu, kabin yang ber-AC membuat perjalanan sedikit lebih nyaman dibanding bus biasa.
Saya tentu akan memilih menggunakan bus dingin dan bebas asap rokok itu kapan saja, ketimbang menaiki kendaraan tua yang compang-camping.
Sialnya, pekerjaan sebagai wartawan memaksa saya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan cepat, setiap hari.
Meski lebih nyaman, bus TransJakarta masih belum bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan ini.
Penumpang antre menunggu bus TransJakarta di halte Monumen Nasional, Jakarta. (ANTARA FOTO/Reno Esnir) |
Belum lagi rute busway juga masih terbatas. Jalan-jalan utama di Jakarta memang bisa dengan mudah dilibas. Namun untuk tempat-tempat tertentu, saya masih harus bergelantungan di bus Metromini.
Setahun belakangan, saya ditugaskan untuk meliput di Mabes Polri, Blok M, Kebayoran Baru. Untuk bisa mencapai tempat itu menggunakan TransJakarta dari tempat tinggal saya di Mampang Prapatan, saya mesti menumpang rute Ragunan-Dukuh Atas dan transit ke arah Blok M, memakan waktu 1,5 jam.
Untuk bisa mencapai Mabes Polri dengan cepat, saya mesti menaiki bus Metromini. Itu pun tidak secepat yang dibayangkan.
Menumpang bus Metromini 75 melewati Mampang Prapatan dan Tendean yang selalu padat, saya terpaksa berpanas-panasan selama satu jam untuk menempuh jarak yang sebenarnya bisa dihabisi dalam 15 menit tanpa kemacetan.
TransJakarta memang sudah menambah armada dan rute untuk mencapai lebih banyak tempat dengan lebih cepat. Namun, untuk saya pribadi, itu masih belum cukup.
Meski membenci habis-habisan, pada akhirnya saya masih tetap harus bergantung dan bergelantung pada bus kota untuk mencapai tempat kerja saya sehari-hari. Tidak ada pilihan lain.
Penumpang antre menunggu bus TransJakarta di halte Monumen Nasional, Jakarta. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)