Laporan Khusus

Kisah Mereka yang Beranjak Tua di Jalanan Jakarta

Yuliawati, Gilang Fauzi, CNN Indonesia | Rabu, 14/09/2016 10:01 WIB
Kisah Mereka yang Beranjak Tua di Jalanan Jakarta Orang-orang yang bolak-balik menuju dan dari Jakarta, menjadi penyumbang besar kemacetan. Di antara mereka, lebih dari separuhnya memakai kendaraan pribadi. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- kaum pekerja yang berjibaku setiap hari datang dan pergi dari Jakarta, paham betul arti bertambah tua di jalan. Istilah ini merujuk pada lama waktu yang tersita di perjalanan akibat kemacetan.

Simak saja keseharian Dina Andriani, 39 tahun, yang menghabiskan seperempat harinya atau enam jam untuk bolak-balik antara rumah dan kantor.

Perjalanan Dina butuh waktu yang sangat panjang, karena lokasi rumah jauh dari kantor. Rumah berlokasi di Ciomas, Bogor, sedangkan kantornya di Palmerah, Jakarta Barat.

“Tentu saja capek di perjalanan. Biasanya saya tertidur di kereta. Kalau tidak badan bisa rontok,” kata Dina kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Dina menggunakan kereta rel listrik (KRL) atau Commuter Line dari Stasiun Bogor hingga Stasiun Palmerah. Waktu yang dia habiskan di kereta sekitar dua jam. Satu jam lainnya adalah perjalanan menggunakan angkutan kota.

Menurut Dina, salah satu hambatan perjalanan KRL adalah antrean di stasiun Manggarai dan masa transit di Tanah Abang. Di Stasiun Manggarai, antrean kereta sekitar 10-15 menit, menunggu kereta luar kota yang melintas di stasiun.

“Apabila kereta bermasalah, perjalanan akan lebih lama,” kata Dina yang ulang-alik seperti itu sudah hampir empat tahun. Sebelumnya, lokasi kantornya lebih dekat, di Manggarai, Jakarta Selatan.

Dina adalah bagian dari 1,38 juta jiwa kaum komuter atau orang-orang yang berjibaku masuk keluar Jakarta setiap harinya. Mereka datang dari beberapa daerah di pinggiran Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek).

Kemacetan Jakarta dalam angka. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Kaum komuter menghabiskan waktu 1-3 jam untuk sekali perjalanan. Waktu yang dihabiskan di jalan bahkan bisa lebih apabila ada gangguan kereta, kecelakaan lalu lintas, atau banjir di Jakarta.

Namun meski melalui perjalanan panjang, para pekerja yang berasal dari daerah pinggiran Jakarta tetap mengerubungi ibu kota.


Jakarta menyumbang kegiatan ekonomi terbesar dibanding wilayah lain. Menurut data Badan Pusat Statistik 2014, sebanyak 16,5 persen kegiatan ekonomi berputar di ibu kota.

Kedatangan kaum ulang-alik ini yang membuat alur lalu lintas Jakarta bertambah padat. Apalagi bila digabung dengan 1,04 juta non-penduduk Jakarta yang berkegiatan di Jakarta, sehingga total komuter di ibu kota 2,42 juta jiwa.

Menurut data BPS 2015, kedatangan komuter membuat jumlah orang di Jakarta pada siang hari mencapai 11,2 jiwa. Angka ini dihitung dari kaum komuter ditambah penduduk Jakarta sebanyak 10,07 juta jiwa, dan dikurangi 255 ribu penduduk ibu kota yang bekerja di Bodetabek.

Direktur Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas mengatakan, persoalan transportasi bukan persoalan tunggal yang berdiri sendiri.

“Namun terkait dengan persoalan-persoalan kepadatan penduduk, urbanisasi, tata ruang, dan guna lahan serta kebijakan,” kata dia.

Kendaraan pribadi terus bertambah

Mobilitas komuter setiap hari bolak-balik dari wilayah pinggiran menuju Jakarta dan sebaliknya ini menjadi penyumbang terbesar kemacetan, karena lebih dari separuh kaum komuter memilih menggunakan kendaraan pribadi. 

“Akar persoalan runyamnya kondisi transportasi Jakarta adalah terlalu dominannya kendaraan bermotor pribadi, baik roda empat maupun roda dua.” Darmaningtyas, Direktur Institut Studi Transportasi.
“Akar persoalan runyamnya kondisi transportasi Jakarta adalah terlalu dominannya kendaraan bermotor pribadi, baik roda empat maupun roda dua,” kata Darmaningtyas.

Berdasarkan data Dinas Perhubungan DKI Jakarta, saat ini ada sekitar 25,7 juta perjalanan setiap hari di Jabodetabek. Dari jumlah itu, sebanyak 19,9 juta perjalanan atau 74,7 persen menggunakan kendaraan pribadi. Sisanya sebanyak 25,3 persen menggunakan kendaraan umum.

Banyaknya jumlah kendaraan pribadi juga terekam Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya. Sepanjang 2014, jumlah kendaraan yang berlalu lintas di Jakarta sebanyak 17,5 juta. Dari jumlah itu, sebagian besar adalah kendaraan sepeda motor sebanyak 13, 08 juta dan mobil pribadi 3,2 juta.

“Pertumbuhan kendaraan sepeda motor selama lima tahun 10,54 persen per tahun, sedangkan mobil pribadi 8,75 persen,” bunyi laporan BPS.

Menurut Darmaningtyas, masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi karena tidak terpenuhinya kebutuhan pada angkutan massal. Seiring kemampuan ekonomi, permintaan kendaraan pribadi pun makin pesat.

Beragam alasan para komuter memilih kendaraan pribadi, mulai dari biaya yang lebih murah, efisiensi, dan waktu tempuh yang lebih singkat.

Salah satu pelaku komuter, Harun Billah, bersama istrinya setiap hari menggunakan mobil pribadi dari rumahnya di Serpong, Tangerang, menuju perkantoran mereka di Kuningan, Jakarta Selatan.

“Pakai mobil pribadi karena lebih murah dan efektif. Biaya bahan bakar Rp25 ribu per hari, hitungannya berdua istri. Apabila menggunakan angkutan umum, biaya untuk satu orang bisa lebih dari Rp25 ribu per hari,” kata Harun.

Harun mengatakan, apabila menggunakan angkutan umum, dia harus berganti kendaraan hingga tiga kali, dan itu memakan waktu sampai dua jam.

“Menggunakan mobil pribadi harus berangkat pagi, tapi waktu tempuh bisa hemat separuhnya,” kata Harun yang membawa kendaraan pribadi sejak 2007.

Kaum komuter, baik yang menggunakan kendaraan pribadi dan umum, menyerbu Jakarta dengan waktu puncak pukul 06.00-08.00 WIB, dan mulai meninggalkan ibu kota pukul 17.00-19.00 WIB. Saat-saat itulah jalan raya di Jakarta berubah menjadi "neraka" karena kemacetannya yang amat parah.

Pengerjaan konstruksi terowongan mass rapid transit (MRT) di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, 8 September 2016. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Kemacetan di Jakarta terlihat dari laju kendaraan yang menurun. Pada 1985, Study on Integrated Transportation Master Plan (SITRAMP) mengadakan uji coba perjalanan dari Pasar Minggu-Manggarai.

Dua titik lokasi yang berjarak 8,5 kilometer ketika itu ditempuh selama 23 menit dengan laju kendaraan 36,9 kilometer per jam. Namun, ketika dilakukan uji coba ulang pada 2009, waktu yang ditempuh menjadi 45 menit atau laju kendaraan menjadi 18,8 kilometer per jam.

Menurut Dinas Perhubungan pada Agustus lalu, ada 837 titik kemacetan di ibu kota. Namun, baru 141 titik yang dijaga oleh petugas dinas.

Peneliti Instran, Deddy Herlambang, mengatakan pesatnya penggunaan kendaraan pribadi di Jakarta karena pemerintah tidak berhasil menyediakan tranportasi massal yang layak dan sesuai kebutuhan.

"Jika sampai 2020 tidak ada perbaikan sistem transportasi, estimasi kerugian ekonomi sebesar Rp28,1 triliun dan kerugian nilai waktu sebesar Rp36,9 triliun."SITRAMP
“Kenyamanan dalam hal pelayanan, keamanan, dan keselamatan adalah tiga faktor yang paling mendasar dari kelayakan sebuah transportasi massal,” kata dia.

Penyediaan transportasi massal yang nyaman, aman, dan murah, serta pembatasan kendaraan pribadi, telah diterapkan beberapa negara maju. Sistem itu membuat penggunaan kendaraan pribadi berkurang.

Persoalan kemacetan yang terus berlarut membuat kerugian materi dan nonmateri makin besar. Perhitungan SITRAMP pada 2002-2004 menyebutkan, kerugian ekonomi pada 2002 akibat macet ialah Rp3 triliun. Selain itu, kerugian macet dari waktu yang dihabiskan masyarakat sekitar Rp2,5 triliun

Bahkan jika sampai tahun 2020 tidak ada perbaikan yang dilakukan pada sistem transportasi Jabodetabek, estimasi kerugian ekonomi ialah sebesar Rp28,1 triliun dan kerugian nilai waktu perjalanan mencapai Rp36,9 triliun.

[Gambas:Video CNN] (yul/agk)