Ray beranggapan, pemilih berhak menentukan pilihannya dalam Pemilu berdasarkan preferensi apapun. Namun, pemilih tak boleh turut mempengaruhi pilihan orang lain menggunakan isu-isu krusial seperti agama.
"Agak bermasalah dalam demokrasi jika Anda mengkampanyekan orang untuk tidak dipilih karena preferensi agamanya. Bahwa Anda memilih karena latar belakang agama, itu tidak apa-apa. Itu dua hal yang berbeda," kata Ray di kawasan Sarinah, Jakarta, Kamis (15/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumadi pun meminta berbagai pihak untuk tidak menggunakan isu SARA sebagai amunisi menyerang bakal calon gubernur di Pilkada mendatang. Menurutnya, lebih baik 'serangan' ditujukan dengan amunisi lain seperti kritik kebijakan.
"Kalau belajar dari Pilkada 2012, ternyata warga Jakarta tidak termakan dengan kampanye menggunakan isu SARA. Tapi itu terkait kedewasaan orang, kalau dia semakin dewasa dalam beragama dia tak lagi mempermasalahkan pemimpin karena latar agamanya," katanya.
Peran Elite Politik
Isu SARA dianggap sengaja dikembangkan untuk menjatuhkan popularitas salah satu bakal calon gubernur di Pilkada ibu kota. Elite politik dalam hal ini dinilai turut berperan menyebarkan isu SARA.
Menurut Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang, isu SARA sebenarnya tidak berkembang di masyarakat. Namun, hal tersebut dapat menimbulkan bahaya jika direproduksi terus menerus.
"Saya yakin gagasan yang memanfaatkan isu SARA dan dimanipulasi elite itu sengaja dimainkan ketika lawan tandingnya (pada Pilkada) dianggap susah dikalahkan oleh gagasan, program, integritas. Ada jarak yang jauh antara elite yang memanfaatkan isu dan masyarakat yang tak peduli dengan itu," kata Sebastian.
Iryanto menilai, baiknya elite politik di Jakarta memainkan isu-isu lain seperti kemacetan, banjir, dan pembangunan infrastruktur dibanding mengedepankan isu SARA untuk mendapat perhatian publik.
"Banyak isu yang seksi dan mendidik untuk dimainkan. Misal isu infrastruktur, banjir, kemacetan, itu bisa dikritik. Itu adalah cara melakukan kampanye yang cerdas, bukan hanya mengkritik tapi bisa menunjukan room for improvement," ujarnya.
Penggunaan isu kinerja kepala daerah sebenarnya pernah digunakan sebagian besar calon gubernur DKI Jakarta di Pilkada 2012. Saat itu, pertarungan program antar calon gubernur terasa begitu kental.
"Selain Ahok, minim pasangan calon yang punya pengalaman sebagai kepala daerah atau birokrat yang mengelola daerah dengan baik. Karena itu petahana sekarang menjadi resah karena partner dalam berdiskusi tidak ada," kata Masykurudin.
Akibat ketiadaan pertarungan gagasan, isu SARA pun marak digunakan elite politik. Masykurudin menilai, isu SARA dimainkan untuk mempengaruhi preferensi pilihan 30 persen pemilih ibu kota yang basis keagamaannya kuat. (gil/agk)