Ritual perayaan ini akan berlangsung selama empat hari, hingga Selasa (20/9) nanti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenakan busana adat Bali yang didominasi warna putih, warga berduyun-duyun ke Pura Sakenan. Tempat suci dianggap istimewa karena sebelumnya terpisah dengan daratan Pulau Dewata. Sebelumnya, hingga tahun 2000, mereka yang hendak bersembahyang harus menggunakan jasa perahu motor atau jukung.
Menurut sejarah pura Sakenan dibangun oleh Asthapaka, seorang pendeta Buddha. Hal itu dilakukan karena sang pendeta kagum akan keindahan laut terpadu dengan keindahan daratan.
Di Pura Sakenan, sembahyang umumnya berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Adapun, dalam kegiatan ritual berskala besar kali ini, sembahyang akan digelar selama empat hari hingga Selasa (20/9).
Oleh karena itu, pihak panitia dan bendesa adat Serangan mengantisipasi membludaknya umat yang bersembahyang ke Pura Sakenan, dengan menerapkan antrean masuk ke mandala utama.
“Itu guna mengikuti persembahyangan secara tertib dan khusyuk,” ujar Ketua Panitia Ida Bagus Gede Pidada, seperti dilansir ANTARA.
Selain itu mereka juga menyediakan areal parkir yang cukup luas untuk sepeda motor dan kendaraan serta koordinasi dengan pecalang, keamanan desa adat setempat. (antara/les)