Umat Hindu Rayakan Hari Suci Kuningan

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Sabtu, 17/09/2016 12:45 WIB
Umat Hindu Rayakan Hari Suci Kuningan Umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan di Pura Sakenan, Bali, Sabtu (17/9). (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Umat Hindu Dharma di Bali, Sabtu (17/9) merayakan Hari Suci Kuningan, yang merupakan rangkaian Hari Raya Galungan. Hari suci tersebut bermakna memperingati Kemenangan ‘Dharma’ (kebaikan) melawaan ‘Adharma’ (keburukan).

Ritual perayaan ini akan berlangsung selama empat hari, hingga Selasa (20/9) nanti.

Pada hari raya yang jatuh sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan itu, umat Hindu menghaturkan sesaji (sesajen) di Pura, tempat suci umat Hindu maupun di merajan, tempat suci milik keluarga masing-masing.


Di Denpasar, umat Hindu mengawali upacara di kediaman masing-masing kemudian melakukan doa bersama di Pura Jagatnatha, yang berlokasi di jantung Kota Denpasar. Selain itu, upacara besar atau piodalan juga dilakukan di Pura Sakenan, Kelurahan Serangan.

Mengenakan busana adat Bali yang didominasi warna putih, warga berduyun-duyun ke Pura Sakenan. Tempat suci dianggap istimewa karena sebelumnya terpisah dengan daratan Pulau Dewata. Sebelumnya, hingga tahun 2000, mereka yang hendak bersembahyang harus menggunakan jasa perahu motor atau jukung.

Keistimewaan lain dari Pura Sakenan yang merupakan salah satu Pura "Sad Kahyangan" (pura besar) adalah Persada, yakni bangunan yang bertingkat-tingkat seperti limas.

Menurut sejarah pura Sakenan dibangun oleh Asthapaka, seorang pendeta Buddha. Hal itu dilakukan karena sang pendeta kagum akan keindahan laut terpadu dengan keindahan daratan.

Di Pura Sakenan, sembahyang umumnya berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Adapun, dalam kegiatan ritual berskala besar kali ini, sembahyang akan digelar selama empat hari hingga Selasa (20/9).

Oleh karena itu, pihak panitia dan bendesa adat Serangan mengantisipasi membludaknya umat yang bersembahyang ke Pura Sakenan, dengan menerapkan antrean masuk ke mandala utama.

“Itu guna mengikuti persembahyangan secara tertib dan khusyuk,” ujar Ketua Panitia Ida Bagus Gede Pidada, seperti dilansir ANTARA.

Selain itu mereka juga menyediakan areal parkir yang cukup luas untuk sepeda motor dan kendaraan serta koordinasi dengan pecalang, keamanan desa adat setempat. (ANTARA/les)