ANALISIS

Megawati, Ahok, dan Jas Merah PDIP

Lalu Rahadian | CNN Indonesia
Kamis, 22 Sep 2016 09:40 WIB
Megawati bergeming ketika Ahok menaruh jas merah di kursinya. Mega tetap seksama mendengar penjelasan komisioner KPU DKI Jakarta, ihwal Pilkada. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri secara simbolis memakaikan jaket PDIP kepada calon petahana Ahok. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendaftaran bakal calon gubernur dan wakil gubernur di KPU DKI Jakarta masih berlangsung kala sebuah jas merah diberikan kepada Basuki Tjahaja Purnama. Warna merah menyala identik dengan warga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Jas merah itu diberikan langsung oleh salah satu kader PDIP kepada Ahok, sapaan Basuki. Alih-alih dikenakan, Ahok justru menautkan jas tersebut di kursi yang diduduki Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Megawati bergeming ketika Ahok menaruh jas merah di kursinya. Anak Presiden pertama Sukarno itu nampak seksama mendengar penjelasan dari komisioner KPU DKI Jakarta, ihwal pilkada.


Melihat kelakuan Ahok, sontak beberapa pendukung dari partai selain PDIP tertawa dan bertepuk tangan. Mereka mungkin gembira melihat bakal cagubnya tak mengenakan seragam kebesaran PDIP.

Namun, kegembiraan mereka tak berlangsung lama.

Sesaat usai menyerahkan berkas pencalonan bakal cagub dan cawagub bersama Djarot Saiful Hidayat, jas merah yang telah dipegang Megawati akhirnya dikenakan Ahok.

Layaknya anak yang dikenakan pakaian oleh ibunya, Ahok dengan gembira memakai jas merah berlambang PDIP. Tepuk tangan menyambut pemakaian jas merah PDIP oleh Ahok.

Kemeriahan berasal dari kader PDIP yang berada di ruang pendaftaran. Jas tersebut tak lepas dari badan Ahok hingga ia meninggalkan kantor KPU DKI bersama Djarot dan Megawati.

"Ini bentuk penghargaan untuk ibu, supaya seragam, satu visi," ujar Ahok singkat menjelaskan pemakaian jas merah tersebut, Rabu (21/9).

Singkat namun padat. Pernyataan Ahok menunjukkan penerimaan dirinya terhadap PDIP.

Jas merah yang membalut tubuh Ahok menggambarkan kesamaan antara dirinya dengan partai pemenang pemilu 2014 itu. Kesamaan yang sebelumnya telah dibuktikan kala Ahok dan Djarot menandatangani kontrak politik dengan PDIP untuk Pilkada 2017.

Dalam kontrak politik yang sudah disepakati, tertulis kewajiban Ahok dan Djarot untuk menjalani Dasa Prasetya PDIP.

Dasa Prasetya merupakan arah umum perjuangan partai dalam menerapkan ideologi Pancasila 1 Juni 1945 yang tertuang ke dalam 10 butir berbeda.

Persamaan Ahok dengan PDIP memang perlu dibuktikan lebih jauh. Namun Megawati selaku ketua umum partai telah menunjukkan penerimaannya terhadap sosok asal Bangka Belitung itu.

Harus diakui, Megawati memang telah lama menaruh hati pada Ahok. Hal itu tercermin dari dukungan yang ia berikan pada Ahok sejak di Pilkada 2012.

Kala itu, walau Ahok masih berstatus sebagai kader Gerindra, Megawati menerima kehadirannya sebagai pendamping Joko Widodo di Pilkada DKI Jakarta.

Setelah Jokowi menjadi Presiden, dukungan PDIP terhadap pemerintahan Ahok di ibu kota juga tidak surut. Buktinya, banyak program kerja Ahok yang mendapat dukungan dari fraksi PDIP di DPRD DKI.

Dukungan juga tersirat dari sikap Djarot selaku wakil gubernur dan kader unggulan PDIP selama mendampingi Ahok.

PDIP, atau Megawati secara khusus, juga telah lama ingin mengusung Ahok menjadi cagub di Pilkada 2017. Namun keinginan tersebut sempat terhambat lantaran Ahok berencana maju melalui jalur independen.

Bermula dari sikapnya meninggalkan jalur independen, Ahok perlahan mendekat ke 'kandang banteng'. Hingga akhirnya, ia resmi menjadi satu-satunya bakal cagub yang diantar langsung oleh sang ibu ke KPU daerah di masa pencalonan.

Hubungan Ibu-Anak

Perubahan sikap Ahok tersebut diyakini tak lepas dari kharisma seorang Megawati. Hubungan Ahok dan Megawati selama ini memang layaknya ibu dan anak. 

Bagi Ahok, Megawati merupakan ibu yang siap mendengar dan memberi nasihat untuk menjalani roda pemerintahan. Megawati juga kerap menganggap Ahok sebagai anaknya dengan berbagai bahasa tubuh yang ia tunjukkan kala bersama gubernur petahana Jakarta itu.

Layaknya ibu dalam falsafah masyarakat Jawa, Megawati kerap diam dan irit bicara menanggapi polah anaknya di depan umum. Namun tak jarang ia mengeluarkan sindiran dan teguran dengan bahasa yang penuh teka-teki.

Hal tersebut berlaku juga dalam konteks politik ibu kota.

Megawati sempat diam ketika Ahok menyebut ada mahar politik yang dimintai parpol untuk mendukungnya dalam Pilkada. Namun ia akhirnya buka suara menanggapi pernyataan tersebut dua pekan sebelum masa pendaftaran calon gubernur dibuka.

"Apakah saya pernah meminta uang ke kalian?" kata Megawati. "Jangan pura-pura, karena saya dari dulu hingga sekarang tak pernah meminta uang. Saya katakan pada Ahok buka itu semua (informasi soal uang) agar semua adil," ujarnya kemudian, 6 September lalu.

Teguran Megawati kepada 'anak-anaknya' mungkin kerap dilakukan kala ia menghabiskan waktu bersama di saat makan, atau dalam kendaraan. Walau jauh dari pemberitaan, cara tersebut terbukti ampuh mengendalikan polah nakal anak-anak sang ibu.

Metode itu juga berhasil meluluhkan kekerasan hati Ahok sehingga ia akhirnya mau diusung menjadi bakal cagub oleh PDIP.

Bagi Megawati, Ahok mungkin dipandang sebagai anak yang cerewet dan ingin terus diperhatikan publik. Namun, sikap Ahok yang demikian hanya dapat diredam dengan diam dan perhatian.

Megawati, suka atau tidak suka, harus diakui telah mampu menjinakkan sikap liar Ahok dengan caranya sendiri.

Catatan redaksi:

Terdapat perubahan di aline pertama yang sebelumnya: Pendaftaran bakal calon gubernur dan wakil gubernur di KPU DKI Jakarta masih berlangsung kala sebuah jas merah berlambang banteng bermoncong putih diberikan kepada Basuki Tjaha Purnama. (wis/rdk)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER