Kusnanto berkata, dibandingkan Amerika Serikat, belakangan ini Rusia terlihat lebih gencar menawarkan produk pertahanan kepada Indonesia. Namun, menurutnya Rusia belum sepenuhnya mendominasi tender di Indonesia.
Salah satu kendala Rusia dalam memenangkan lelang pengadaan alat pertahanan di Indonesia adalah kecenderungan mereka melibatkan broker. Padahal, Peraturan Menteri Pertahanan 17/2014 melarang pelibatan pihak ketiga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya kira Rusia belum akan secara signifikan menggeser dominasi negara-negara Barat,” kata Kusnanto, Senin lalu.
Menurut Jan, dalam 15 tahun ke depan, Indonesia diprediksi akan masuk daftar sepuluh besar negara berpengaruh di tingkat global. Ia juga mendasarkan pendapatnya pada status ASEAN sebagai kekuatan ekonomi nomor tujuh terbesar di dunia.
Kekuatan Turun
Merujuk penyerapan teknologi, Kusnanto mengatakan, hingga 2014 daya serap teknologi TNI AL turun empat persen, sementara TNI AU turun dua persen. Di sisi lain, TNI AD disebutnya stagnan dalam menyerap perkembangan teknologi persenjataan terkini.
Merujuk pada angka itu, Kusnanto menuturkan, kesiapan Indonesia menghadapi perang modern yang melibatkan teknologi tinggi tidaklah baik.
“Indonesia menjadi lebih lemah dibandingkan beberapa negara tetangga, terutama Singapura dan Australia. Untuk perang konvensional ceritanya mungkin akan berbeda, cuma saya enggak membayangkan akan ada perang berkarakter itu di Asia Tenggara," ujarnya.