Itu adalah kutipan resmi Presiden Joko Widodo terhadap kerusuhan demo anti Ahok pada 4 November malam. Pernyataan itu seakan menguatkan informasi awal mengenai agenda lain sejumlah oknum melalui 'Aksi Bela Islam'.
Tiga hari sebelum demo, Jokowi, melalui Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, mengatakan sudah mewaspadai penyusupan agenda selain mendorong penegakan hukum dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harus mewaspadai pihak ketiga yang berupaya membiayai demo seperti ini. Ini yang Presiden wanti-wanti betul," tambahnya.
Lihat juga:Ahok: Gelar Perkara Terbuka Keputusan Tepat |
Memeriksa Ulang Informasi
Dalam keterangan resmi, SBY sempat membandingkan Jokowi dengan gaya kepemimpinannya selama 10 tahun dan menghadapi demonstrasi. SBY mengklaim selalu mendengar dan memeriksa ulang setiap informasi intelijen.
"Kalau dikaitkan situasi sekarang, jika ada analisis intelijen seperti itu (menuduh) saya kira berbahaya. Berbahaya menuduh seseorang atau kalangan atau partai politik melakukan seperti itu (mendanai unjuk rasa). Itu fitnah. I tell you, fitnah lebih kejam dari pembunuhan dan sekaligus itu penghinaan" tutur SBY.
Meski tidak secara gamblang merasa dituduh, Ketua Umum Partai Demokrat itu mengaku sudah mengumpulkan informasi dari penyelenggara negara hingga sumber kepolisian sebelum berbicara. Sehingga ia berharap, intelijen tidak melemparkan tudingan tak berdasar pada kelompok tertentu.
"Berbahaya jika ada intelijen failure dan error," katanya.
Kritik dan saran SBY ini ditanggapi santai Jokowi sehari sebelum demo. Ia mengatakan, intelijen juga manusia biasa. "Yang namanya manusia, kadang-kadang bisa benar, bisa enggak benar. Bisa error, bisa enggak error," kata Jokowi.
Pada kesempatan yang sama, JK mengatakan, informasi personel intelijen dan yang diterima SBY bisa saja berbeda. Ia mendorong seluruh pihak menyaring kabar yang beredar. "Mungkin yang ditangkap Pak SBY berbeda. Analisis kami juga beda. Tapi itu biasa saja," tuturnya.
Demo berlangsung. Kerusuhan terjadi usai salat Isya. Kepolisian mulai menelusuri aktor intelektual memobilisasi dan mendanai rusuh aksi.
Foto: CNN Indonesia/Andry NovelinoAksi kekisruhan yang terjadi usai demo anti Ahok pada 4 November lalu. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
"Saya sangat menghargai pendapatmu @estikartika2410. 10 tahun pak SBY memimpin negara, tidak ada DNA keluarga kami berbuat yg tidak-tidak. Jadi kalau ada tuduhan kpd pak SBY yg menggerakan dan mendanai aksi damai 4 Nov lalu, itu bukan hanya fitnah yg keji, tetapi juga penghinaan yang luar biasa kpd pak SBY," tutur Ani.
Istana kembali tutup mulut. Tetapi, Wiranto kemarin menyatakan tak mempermasalahkan apabila ada pihak merasa tertuduh menjadi dalang demo.
"Kalau merasa ya terserah saja. Itu urusan masing-masing," katanya.
Alih-alih menyebut aktor yang dimaksud Jokowi, Wiranto meminta masyarakat menyoroti langsung tokoh-tokoh turut berdemo di lapangan. Berdasarkan pengamatan, sejumlah tokoh politik turut berdemo. Mulai dari Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan Fahri Hamzah, hingga Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais.
"Kita enggak bisa tuduh menuduh. Tapi kan pada kenyataannya, banyak politisi yang juga hadir dalam arena itu. Terjemahannya bagaimana? Itu kembali lagi kita tidak usah tuduh menuduh," Wiranto berkelit.
Sementara itu, proses hukum masih terus berjalan. Sejumlah orang ditangkap dan diperiksa terkait dengan kekisruhan demo anti Ahok. Dalam hal ini, publik pun perlu mengetahui siapa yang 'menodai' aksi yang sebelumnya berlangsung dengan damai tersebut. (asa)
Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino