"Dalam kaitan dengan pelaksanaan hak angket, kami mengimbau dan mendorong pada pengusul hak angket agar mengurungkan maksud dan mencabut usulan yang tadi dibacakan," kata Johnny dalam rapat paripurna, Kamis (23/2).
Menurutnya, lebih baik anggota DPR menggunakan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan lain ketimbang mengurusi penonaktifan Ahok dari jabatan Gubernur DKI Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penjelasan Johnny itu langsung ditanggapi anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Refrizal. PKS merupakan salah satu fraksi yang mengajukan hak angket untuk Ahok.
Lihat juga:Polemik Kembalinya Ahok ke DKI-1 |
"Dengan ini kami gunakan hak angket, minimal 25 anggota lebih dari satu fraksi. Ini memenuhi suarat, kalau ada berbeda pendapat di bawah fraksi silakan. Nanti ambil keputusan di paripurna," kata Refrizal.
Refrizal melanjutkan, "Bagi teman-teman yang beda pendapat, nonaktifkan Ahok saja cukup. Saya legowo menarik hak angket ini."
Lihat juga:Menerka Masa Depan Status Ahok |
Sebelumnya, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan usulan hak angket Ahok tidak akan diputuskan pada rapat paripuna. Usulan tersebut hanya dibacakan sebagai surat masuk di paripurna.
"Jadi hanya memberitahukan kepada paripurna bahwa surat dari para pengusul itu sudah masuk ke pimpinan. Selanjutnya harus ada Bamus (Badan Musyawarah) lain yang mengatur soal penjadwalan pembacaan usulan penggunaan hak angket oleh anggota di masa sidang yang akan datang," kata Fahri.
Menurut Fahri, Bamus yang dihuni perwakilan setiap fraksi hanya bertugas menjadwalkan pembahasan dalam paripurna. Bukan mengambil keputusan berbagai usulan yang diajukan ke pimpinan. Begitu juga dengan usulan hak angket Ahok yang diajukan fraksi Gerindra, Demokrat, PKS dan PPP. (sur/abm)