Kesaksian Miryam penting untuk membongkar kasus e-KTP. Miryam didakwa pernah meminta uang kepada eks Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Irman sebesar US$100 ribu untuk Chairuman Harahap. Uang itu untuk membiayai kunjungan kerja Komisi II DPR RI ke beberapa daerah.
Miryam juga meminta Rp5 miliar kepada Irman yang disebut untuk kepentingan operasional Komisi II. Uang tersebut disebut jaksa dibagikan kepada empat orang pemimpin Komisi II yakni Chairuman Harahap, Ganjar Pranowo, Teguh Juwarno dan Taufik Effendi masing-masing sejumlah USD25 ribu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengaku tak betah berlama-lama saat diperiksa karena terganggu dengan Novel yang saat itu baru selesai makan durian. Miryam berpikir hal itu disengaja untuk membuatnya cepat keluar dari ruang pemeriksaan.
Jaksa Penuntut Umum berencana menghadirkan tiga penyidik KPK untuk dikonfrontasi dengan Miryam pada sidang tersebut, yakni Novel Baswedan, Damanik, dan MI Santoso.
Salah seorang anggota Majelis Hakim, Anshori mengatakan, tindakan Miryam membantah semua keterangannya dalam BAP telah mempersulit persidangan. Miryam dianggap tidak logis membantah semua kesaksian dalam BAP karena alasan menerima tekanan psikis saat diperiksa penyidik KPK.
“Di dalam Pasal 11 UU 30/1999 disebutkan seorang warga negara wajib memberikan keterangan di depan persidangan dalam kasus dugaan korupsi. Jika tidak memberikan keterangan bisa dipidana paling sedang 3 tahun dan paling lama 12 tahun,” ujar Anshori.