Saat berorasi di depan Kantor PTFI, Jakarta, sejumlah massa aksi juga menyampaikan keinginannya agar pemerintah Indonesia menyetujui pembebasan Papua Barat dari Indonesia.
"Sebenarnya, kami sudah free, sudah bebas, kami sudah menjalankan kehidupan kami sendiri tanpa campur tangan pemerintah Indonesia, tapi sampai sekarang kebebasan kami tidak juga diakui pemerintah," kata anggota AMP Helena Kabogau saat ditemui di tengah aksi di Jakarta, Jumat (7/4).
Helena menilai, selama ini yang dilakukan pemerintah Indonesia dan PTFI hanya mencuri keuntungan dari kekayaan alam Papua Barat. Dia berpendapat, Papua Barat bisa makmur dan jauh dari kemiskinan jika Indonesia mau melepas Papua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Helena mengatakan masyarakat Papua Barat berkali-kali meminta pengakuan pembebasan kepada pemerintah Indonesia. Namun, desakan tersebut sama sekali tidak pernah digubris oleh pemerintah.
Aliansi Mahasiswa Papua dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua juga menggelar aksi di Papua untuk menuntut penutupan Freeport, Jumat (7/4). (Foto: istimewa) |
"Kami bukan merah putih, bukan bagian merah putih, kami hitam berbintang kejora," pekik massa aksi menyanyikan lagu itu.
Saat lagu tersebut dinyanyikan bersama, aparat kepolisian yang mengawasi jalannya aksi langsung melarang mereka membawa dan mengibarkan bendera Bintang Kejora. "Tidak boleh, ini dilarang," kata salah satu aparat kepolisian tersebut.
Sementara itu, mahasiswa yang membawa bendera tersebut berdalih jika yang mereka bawa hanya kertas karton yang digambar mirip lambang bendera Bintang Kejora.
Aliansi Mahasiswa Papua dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua juga menggelar aksi di Papua untuk menuntut penutupan Freeport, Jumat (7/4). (Foto: istimewa)