Kemal Jufri: Saya Bukan Mesin Pembuat Foto
Patricia Diah Ayu | CNN Indonesia
Kamis, 04 Mei 2017 20:02 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Kemal Jufri sempat merasa tak puas hasil bidikan kameranya ketika diminta majalah Jerman STERN meliput bencana letusan Gunung Merapi, 2010 silam. Alih-alih bergerak bebas, ia wajib mengikuti reporter yang ditugaskan STERN ke lokasi bencana. Kemal dituntut mendapat foto profil dari setiap warga dan narasumber lain yang diwawancara sang reporter.
Hatinya berontak. Bukan foto seperti itu yang ingin ia dapatkan.
Setelah penugasan STERN selesai, Kemal ambil keputusan. Ia harus memperpanjang masa tinggalnya di Jogjakarta meski artinya bergerak mandiri. Mengeluarkan uang dari kocek sendiri.
Tapi keputusan penting itu justru membuatnya menciptakan serangkaian foto yang kemudian mendapat penghargaan World Press Photo 2011. Menegaskan namanya jadi salah satu fotografer terbaik di level dunia.
Tekad Kemal untuk tetap berada di lokasi bencana itu sebenarnya bukan tanpa risiko. Saat itu justru terjadi letusan yang lebih besar dari sebelumnya.
Kemal sempat mendatangi rumah sakit karena memperkirakan akan ada banyak korban di sana. Ia datang di pagi buta, ketika sinar matahari belum menyeruak di antara material vulkanik yang menyelimuti Jogja. Tapi sesampainya di rumah sakit, ia bertemu berbagai media yang juga berpikiran sama dengannya.
Lagi-lagi Kemal harus mengambil keputusan. Ia mengubah haluan karena meyakini foto yang ia cari bukan berada di sana.
Akhirnya Kemal menuju salah satu desa terdampak. Tapi belum sampai kakinya melangkah ke areal desa, ia dihadang warga untuk masuk. Area desa itu masih terlalu panas dan berbahaya untuk dipijak. Bahkan belum ada tim SAR (Search and Rescue) yang masuk ke dalamnya.
Belum sempat memutar otak untuk mencari tujuan selanjutnya, awan panas Merapi kembali turun. Bahaya kembali mengintai. Sopir yang mengantar Kemal ke desa terdampak itu pun memaksanya segera turun mencari tempat aman.
Tapi Kemal masih mencari cara untuk kembali ke desa terdampak tersebut.
“Tiba-tiba ada truk TNI dari arah berlawanan berhenti. Mereka sedang menurunkan pengungsi dan kemudian memutar balik untuk jalan lagi ke atas. Itu satu-satunya kesempatan, saya langsung naik ke atas truk,” kata Kemal menceritakan pengalamannya waktu itu, kepada CNNIndonesia.com.
“Sampai pada titik masuk ke desa, saya mengikuti mereka evakuasi. Karena ketika mereka masuk, mereka pasti memantau aktifitas vulkanik gunung.”
Dari keberanian menembus bahaya itu lah kemudian Kemal menciptakan karya yang menggugah. Ia memotret proses evakuasi yang dilakukan TNI, korban awan panas yang terbujur kaku di dalam sebuah rumah, hingga seekor sapi yang tertutup abu vulkanik dan tergeletak di tengah kandang yang sudah rata dengan tanah.
Kemal mengatakan di balik karya-karyanya di Merapi kala itu tak ada proses rumit. Ia mengibaratkannya seperti mengendarai mobil dengan transmisi otomatis.
“Sudah enggak dipikirkan lagi gimana-gimananya, mengalir saja. Insting saja, merespons yang saya lihat.” tuturnya.
Hatinya berontak. Bukan foto seperti itu yang ingin ia dapatkan.
Setelah penugasan STERN selesai, Kemal ambil keputusan. Ia harus memperpanjang masa tinggalnya di Jogjakarta meski artinya bergerak mandiri. Mengeluarkan uang dari kocek sendiri.
Tapi keputusan penting itu justru membuatnya menciptakan serangkaian foto yang kemudian mendapat penghargaan World Press Photo 2011. Menegaskan namanya jadi salah satu fotografer terbaik di level dunia.
Tekad Kemal untuk tetap berada di lokasi bencana itu sebenarnya bukan tanpa risiko. Saat itu justru terjadi letusan yang lebih besar dari sebelumnya.
Kemal sempat mendatangi rumah sakit karena memperkirakan akan ada banyak korban di sana. Ia datang di pagi buta, ketika sinar matahari belum menyeruak di antara material vulkanik yang menyelimuti Jogja. Tapi sesampainya di rumah sakit, ia bertemu berbagai media yang juga berpikiran sama dengannya.
Lagi-lagi Kemal harus mengambil keputusan. Ia mengubah haluan karena meyakini foto yang ia cari bukan berada di sana.
Akhirnya Kemal menuju salah satu desa terdampak. Tapi belum sampai kakinya melangkah ke areal desa, ia dihadang warga untuk masuk. Area desa itu masih terlalu panas dan berbahaya untuk dipijak. Bahkan belum ada tim SAR (Search and Rescue) yang masuk ke dalamnya.
Belum sempat memutar otak untuk mencari tujuan selanjutnya, awan panas Merapi kembali turun. Bahaya kembali mengintai. Sopir yang mengantar Kemal ke desa terdampak itu pun memaksanya segera turun mencari tempat aman.
Tapi Kemal masih mencari cara untuk kembali ke desa terdampak tersebut.
“Tiba-tiba ada truk TNI dari arah berlawanan berhenti. Mereka sedang menurunkan pengungsi dan kemudian memutar balik untuk jalan lagi ke atas. Itu satu-satunya kesempatan, saya langsung naik ke atas truk,” kata Kemal menceritakan pengalamannya waktu itu, kepada CNNIndonesia.com.
“Sampai pada titik masuk ke desa, saya mengikuti mereka evakuasi. Karena ketika mereka masuk, mereka pasti memantau aktifitas vulkanik gunung.”
Salah satu dari rangkaian foto Kemal Jufri yang memenangi penghargaan World Press Photo 2011. (Foto: KEMAL JUFRI) |
Kemal mengatakan di balik karya-karyanya di Merapi kala itu tak ada proses rumit. Ia mengibaratkannya seperti mengendarai mobil dengan transmisi otomatis.
“Sudah enggak dipikirkan lagi gimana-gimananya, mengalir saja. Insting saja, merespons yang saya lihat.” tuturnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemerdekaan Dunia Freelance
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
Salah satu dari rangkaian foto Kemal Jufri yang memenangi penghargaan World Press Photo 2011. (Foto: KEMAL JUFRI)
Salah satu foto Kemal Jufri yang mendapat penghargaan. Foto ini menggambarkan kondisi pengungsi dan imigran dari Timur Tengah dan Asia Tengah di Pulau Lesbos, Yunani. (Foto: KEMAL JUFRI)
Foto Kemal Jufri di penampungan orangutan di Kalimantan. Sejak 2016, orangutan menjadi salah satu spesies langka. (KEMAL JUFRI)