Namun menurut sejarawan Didi Kwartanada awal mula kedatangan orang Tionghoa ke Indonesia bukanlah sebagai pedagang. Orang Tionghoa datang ke Indonesia sebagai perantau. Layaknya perantau, mereka merasa perlu memiliki cara untuk bisa bertahan hidup di daerah rantauan.
Kala itu, orang Tionghoa melihat orang-orang Indonesia yang mayoritas adalah seorang petani tidak bisa berdagang untuk menjual hasil pertaniannya. Belanda pun melihat hal tersebut. Hingga akhirnya Belanda memposisikan orang Tionghoa sebagai kelompok perantara.
Lihat juga:Mengingat 98, Saat Kami Dipanggil 'Cina' |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Didi mengatakan itu tak hanya terjadi di masa penjajahan Belanda, tetapi berlanjut di masa penjajahan Jepang dan bahkan sampai setelah Indonesia merdeka.
Pasca reformasi, sentimen anti-China sudah menurun. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Didi mengatakan, sebenarnya etnis Tionghoa tidak benar-benar dilarang untuk ikut berpolitik pada masa pemerintahan orde baru. Namun, orang-orang Tionghoa sendiri merasa takut untuk berpolitik karena adannya trauma di masa lalu, yaitu peristiwa tahun 1965 di mana etnis Tionghoa juga menjadi kambing hitam.
Lihat juga:Tionghoa, Trauma Politik dan Kemunculan Ahok |
Meski begitu, pasca 1998 atau setelah reformasi, sentimen anti-China atau posisi orang Tionghoa sebagai kambing hitam sudah mulai menurun.
"Sentimen anti-China itu sudah menurun, namun sekarang (mulai muncul lagi), kemarin ada 411, 212 arahnya ke sana lagi (kerusuhan Mei 1998), paling gampang lewat sentimen ras," ucapnya.
Pasca reformasi, sentimen anti-China sudah menurun. (CNN Indonesia/