Bom Kampung Melayu Diduga Ada Muatan Balas Dendam JAD

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Kamis, 25/05/2017 23:25 WIB
Bom Kampung Melayu Diduga Ada Muatan Balas Dendam JAD Ilustrasi: Kasus bom Kampung Melayu yang terjadi pada Rabu (24/5) malam diduga bermuatan balas dendam dari Jamah Ansoru Daulah (JAD) yang berafiliasi kepada ISIS. (ANTARA FOTO/Fajrin Raharjo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat terorisme yang juga Komandan Densus 99 Banser GP Ansor Nuruzzaman menilai bahwa kejadian bom Kampung Melayu yang terjadi Rabu (24/5) adalah bentuk balas dendam dari Jamaah Ansoru Daulah (JAD) Indonesia.

Menurut Nuruzzaman, berdasarkan analisa Densus 99 Banser yang kerap melakukan kajian dan deteksi dini soal terorisme, ada dugaan bahwa bom Kampung Melayu merupakan perintah dari Rois Darmawan, terpidana mati kasus bom Kedubes Australia yang saat ini berada di penjara Nusa Kambangan.

“Ada dugaan mengarah pada Rois Darmawan. Dia marah dan balas dendam karena salah satu pelaku terorisme yang tertembak mati oleh polisi adalah saudaranya,” kata Nuruzzaman kepada CNNIndonesia.com, Kamis (25/5).

Nuruzzaman menjelaskan kejadian bermula dari lumpuhnya enam teroris oleh polisi pada 9 April lalu di Tuban, Jawa Timur. Keenam teroris yang merupakan anggota JAD tersebut bergerak atas suruhan Amir JAD, Zainal Anshori.


Zainal Anshori sendiri telah ditangkap polisi di Lamongan, Jawa Timur, sebelum kejadian itu pada 6 April lalu. Ia ditangkap bersama dengan dua orang lainnya.

Nuruzzaman menyebut, dalam JAD, yang masih dapat memerintahkan untuk melakukan aksi teror bom hanya tiga orang, yaitu Aman Abdurrahman, Rois Darmawan, dan Brekele alias Mujaddid alias Syaiful Anam.

“Tiga orang ini yang masih bisa memfatwakan untuk melakukan amaliyah jihad. Karena yang bisa menjenguk di penjara hanya keluarga mereka, bisa jadi perintah jihad diberikan melalui keluarganya," kata Nuruzzaman.

“Kalau benar ini Rois yang memerintahkan, maka ada masalah di penjara. Mengapa mereka dapat mengendalikan dari dalam? Ini berarti harus ada upaya peningkatan keamanan di penjara oleh Kemenhukam sebagai yang berwenang,”

Nuruzzaman mengatakan dugaan lain mengapa polisi yang terkesan menjadi target dari sasaran kelompok ini adalah karena faktor polisi sebagai pihak yang melawan teroris.

“Karena mereka tidak dapat mengakses tempat seperti Kedutaan Australia atau Amerika Serikat yang keamanannya ketat, dan Pemerintah Indonesia dipandang tidak sesuai khilafah, maka polisi atau aparat keamanan sebagai lawan terorislah yang menjadi target,” kata Nuruzzaman.

“Bagi mereka, dengan adanya korban tiga polisi dari bom Kampung Melayu, itu adalah prestasi luar biasa. Saya berharap aparat keamanan bisa lebih bijak dan waspada menyikapi dugaan ini,”

Selain memperkuat sistem keamanan di dalam dan luar penjara, Nuruzzaman menilai pemerintah perlu mengesahkan RUU Terorisme dan memberikan wewenang bagi aparat untuk melakukan penangkapan bagi mereka yang terduga teroris.

Hal ini dianggap penting lantaran menurut Nuruzzaman, pihak aparat baru menangkap teroris ketika sudah ada kasus terjadi.

“Selain itu, masyarakat juga perlu waspada karena terorisme bukan hanya soal negara tetapi juga kemanusiaan. Masyarakat harus bersama-sama melakukan pengawasan sedini mungkin dan memberikan informasi kepada petugas bila menemukan yang mencurigakan,” kata Nuruzzaman.

JAD yang dipimpin oleh Aman Abdurahman ini adalah salah satu sempalan dari Jamaah Ansharut Tauhid yang berafiliasi dengan Islamic State in Iraq and Syria (ISIS).

Kelompok ini beroperasi di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Maluku. Para pimpinan dari masing-masing wilayah itu pernah beberapa kali melakukan pertemuan, termasuk di Malang, Jawa Timur.

Amerika Serikat memasukkan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ke dalam daftar organisasi teroris.

Departemen Luar Negeri Amerika menyebut bahwa JAD adalah “satu kelompok teroris berbasis di Indonesia yang didirikan pada 2015 dan terdiri dari hampir dua lusin kelompok-kelompok ekstrimis Indonesia” yang berbaiat pada ISIS.