Pemerintah Pemerkan Arsip Langka Sejarah Lahirnya Pancasila

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Kamis, 01/06/2017 13:38 WIB
Pemerintah Pemerkan Arsip Langka Sejarah Lahirnya Pancasila Ilustrasi. (REUTERS/Michalis Karagiannis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagian besar arsip yang memiliki nilai sejarah tinggi untuk pertama kalinya dipamerkan ke publik mulai hari ini, Kamis (1/6), hingga pertengahan Juni mendatang.

Pameran bertajuk "Pameran Arsip Lahirnya Pancasila" ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Direktorat Jenderal Kebudayaan, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dan Perpustakaan Nasional.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid menjelaskan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memberikan pengetahuan secara menyeluruh dan rinci kepada masyarakat umum terkait sejarah Indonesia.


"Arsip-arsip (yang dipamerkan) seperti dokumen tentang persidangan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Dokuritsu Zyumbi Tyoosakai, dan teks pidato Sukarno tentang Pancasila," papar Hilmar.
Tak hanya itu, arsip lainnya yang juga dipamerkan yakni penyusunan konsep pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, persidangan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang menetapkan UUD 1945 dan memilih Presiden dan Wakil Presiden.

"Nanti dipamerkannya akan disusun secara berurutan. Jadi melalui pameran ini memperlihatkan proses. Jadi masyarakat tahunya kan langsung jadi, nanti dalam pameran akan dijelaskan prosesnya," jelas Hilmar.

Lebih lanjut Hilmar mengatakan, salah satu karya besar (master piece) yang akan dipamerkan, yaitu Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Hilmar memastikan, kitab yang akan dipamerkan bukanlah replika melainkan kitab asli.

"Ini untuk pertama kalinya, karena dari sanalah cuplikan Bineka Tunggal Ika diambil. Itu akan menjadi master piece setiap hari akan dibawa pulang oleh pemiliknya, tapi besoknya akan diantar kembali," ungkap Hilmar.
Pameran arsip ini sebenarnya sudah mulai dilakukan hari ini di Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Namun, apa yang dipamerkan di Kemenlu terbilang belum lengkap dan akan dilengkapi mulai esok hingga 15 Juni mendatang di Museum Nasional.

"Siang ini semua arsip akan dipindah, kami memandang perlu pindah karena akses ke Museum Nasional lebih banyak. Gedung Kemenlu kan masih digunakan oleh Kemenlu sehari-harinya juga," katanya.

Setelah melakukan pameran di Museum Nasional, berencana menyelenggarakan hal serupa di beberapa museum di daerah. Namun, jika apa yang dipamerkan di Museum Nasional merupakan dokumen asli, nantinya arsip yang akan dipamerkan di daerah merupakan replika.

"Replika akan dibuat setelah ini, kemudian itu yang akan dibawa ke daerah-daerah," tandas dia.