Pantauan CNNIndonesia.com, sebagian besar bangunan berdinding papan dan beratap asbes itu berderet di pinggir jalan Jalan Kepanduan I yang berada di seberang Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalijodo. Ukurannya bervaiasi sekitar 3x4 meter persegi.
Jika dilihat dari pinggir jalan utama, seperti Jalan Pangeran Tubagus Angke, rumah-rumah serupa bedeng ini memang tidak terlalu mencolok. Selain karena lokasi tanahnya lebih rendah dari jalan, sebagian rumah tertutup dengan barisan truk ekspedisi lintas provinsi yang hampir setiap hari terparkir di lokasi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kalau saya kaya, dari awal enggak akan tinggal di kolong," ujarnya.
Perempuan 60 tahun ini mengaku sudah beberapa kali jadi korban penggusuran Satpol PP. Namun hal tersebut tak membuatnya pindah dari lokasi itu. Alasannya sama dengan Yanti, tak ada pilihan lain. “Enggak punya pilihan lain lagi selain di sini,” katanya.
Warga memanfaatkan kolong tol untuk tempat menaruh barang bekas. (CNN Indonesia/Filani Olyvia) |
“Setiap bangun pagi, kasur saya, saya umpetin. Ditutup karung. Kalau enggak begitu, ada penggusuran, bisa diambil Satpol PP," ujarnya.
Karena seringnya penggusuran di lakukan, banyak warga yang tinggal di bangunan liar ini bersikap dingin bahkan cenderung curiga pada pendatang, terutama pada awak media. Mereka khawatir pemberitaan membuat penggusuran terjadi lagi.
Di kolong tol ini sejak dulu sudah terbangun bangunan liar. Satpol PP menerbitkan bersamaan dengan penataan kawasan Kalijodo, Februari 2016 lalu. Namun bangunan liar kembali bermunculan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga sudah gerah dengan keberadaan bangunan liar tersebut. Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan, sebelum lebaran, puluhan bangunan liar itu harus sudah dirobohkan.
Ia khawatir, jika dibiarkan, jumlah bangunan liar terus bertambah dan bisa disalahgunakan untuk tempat prostitusi lagi seperti saat kawasan pelacuran Kalijodo masih ada.
Setelah ditertibkan, tambah Djarot, tempat tersebut rencananya akan diberi pagar dan dijadikan sebagai taman atau lahan pakir agar tidak kembali dijadikan sebagai pemukiman liar.
"Tadi sudah kita rapatkan setelah selesai langsung kita bersihkan dan kita pagar, kita gunakan untuk taman atau tempat parkir," kata Djarot.
Warga memanfaatkan kolong tol untuk tempat menaruh barang bekas. (CNN Indonesia/Filani Olyvia)