Hal itu diungkapkan Miryam melalui kuasa hukumnya, Heri Andeska, dalam sidang pembacaan eksepsi atau nota keberatan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (14/7).
"Dalam perkara ini penuntut umum tidak memperhatikan kewenangan absolut peradilan tipikor, mestinya perkara ini diserahkan ke peradilan umum," ujar Heri saat membacakan eksepsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal lain yang disoroti Miryam adalah fakta bahwa sidang korupsi e-KTP yang menjadi perkara pokok saat itu masih berlangsung dan belum berkekuatan hukum tetap.
Heru mengatakan, pasal 64 ayat 1 KUHP menjelaskan ada perbuatan berlanjut yang dilakukan oleh terdakwa. Sementara pencabutan BAP dinilai sebagai sikap bukan perbuatan berlanjut.
"Surat dakwaan yang menyimpang dari penyidikan harus dinyatakan palsu atau tidak benar," tuturnya.
Jaksa juga dianggap tidak dapat menguraikan perkara secara cermat, jelas, dan lengkap karena tidak mampu membandingkan keterangan yang benar dan tidak benar.
Mantan anggota Komisi II DPR ini menuturkan, majelis hakim mestinya mempertimbangkan putusan Irman dan Sugiharto yang menyatakan bahwa alat bukti yang dianggap sah adalah keterangan di persidangan.
"Keterangan saya (mencabut BAP) di persidangan itu diakui hakim. Itu menjadi fakta persidangan baru," ucap Miryam usai persidangan.
Sidang akan dilanjutkan dengan mendengarkan tanggapan jaksa pada 31 Juli mendatang.