Abeth Youw salah seorang warga di Deiyai mengatakan kericuhan itu terjadi berawal dari warga yang tak terima dengan pengabaian perusahaan pembangun jembatan di Oneibo.
"Ada seorang warga yang tenggelam di Kali Oneibo, lalu dia diselamatkan masyarakat dalam kondisi kritis. Lalu warga meminta bantuan kendaraan ke perusahaan untuk dibawa ke rumah sakit. Tapi, perusahaan tak memberi bantuan. Akhirnya salah seorang kawan ke Waghete untuk mencari kendaraan seorang kawan," kata Abeth saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (1/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga yang emosi lalu merusak pos tersebut. Menanggapi kejadian tersebut ke anggota brimob serta Polsek Tigi menghampiri lokasi untuk mengamankan.
Kamal mengatakan, saat masyarakat mengamuk di kamp pembangunan jembatan, Manager PT PUTRA DEWA PANIAI atas nama Aldi melapor ke anggota brimob yang diperbantukan di Polsek Tigi. Komandan Pleton Brimob Inspektur Satu Aslam Djafar lalu melapor ke Polsek Tigi.
Kemudian anggota gabungan Polsek Tigi sebanyak delapan orang dan sembilan anggota Brimob dipimpin Kapolsek Tigi Inspektur Satu HM Raini dan Aslam Djafar bersama karyawan berangkat menuju lokasi. Setibanya di lokasi, tindakan persuasi dilakukan.
"Empat warga masyarakat yang terkena peluru karet saat masih di rawat di RSUD Deiyai, Kapolres juga saat ini masih di Polsek."
Lebih lanjut, Ahmad Kamal menyatakan situasi dan kondisi di Oneibo saat ini sudah aman dan kondusif.
"Bupati, tokoh masyarakat, pimpinan perusahaan, dan masyarakat jam 8.30 besok akan bertemu untuk menyelesaikan masalah ini," kata Kamal.