Selama ini, kata Nurhasim, Partai Gerindra tidak pernah bersuara saat ada masalah yang menimpa kalangan jurnalis. Nurhasim memberi contoh, saat ratusan karyawan MNC Grup dipecat secara sepihak, tidak ada politisi Gerindra di DPR yang turut membantu menyelesaikan masalah.
“Enggak ada politikus Gerindra membela para wartawan yang di-PHK secara sepihak,” kata Nurhasim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah karyawan Koran Seputar Indonesia (Sindo) Biro Jawa Timur yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) berunjuk rasa di Monumen Bambu Runcing, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (2/8). Mereka menuntut hak pesangon. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono) |
“Partai Gerindra enggak bicara apa-apa,” kata Nurhasim.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan, ujar Nurhasim, adalah lewat kendaraan politik di parlemen. Prabowo, melalui Gerindra, bisa mendorong tahap legislasi yang akhirnya membuat standar gaji khusus wartawan. Prinsipnya, kata Nurhasim, kerja wartawan memiliki perbedaan dengan profesi yang lain.
Menurut Nurhasim, tidak semua profesi dibatasi peraturan khusus layaknya wartawan, yang pola kerjanya diatur dalam Undang-Undang Pers serta Kode Etik Jurnalistik.
“Bikinlah legislasi yang mendorong wartawan agar sejahtera. Kayak apa legislasinya ya itu diskusi berikutnya. Iktikad dulu,” kata Nurhasim.
"Media masaa itu pilar keempat demokrasi, terutama elite harusnya respect dengan media massa. Tidak sewajarnya Pak Prabowo katakan seperti itu, tidak bagus bagi komunikasi politik. Media dan wartawan itu jembatan elite politik ke masyarakat," kata Mada Sabtu (20/8).
Mada menjelaskan cara Prabowo membela wartawan tidak elegan. Jika memang membela wartawan agar mendapat gaji yang tidak kecil, seharusnya Prabowo melakukan langkah kongkret. Setidaknya melalui partai yang ia pimpin.
Mada membandingkan perkataan Prabowo dengan peribahasa Jawa lantaran Prabowo berdarah Jawa. Ada peribahasa jawa yang memakai istilah idu geni yang berarti ludah api.
"Raja di Jawa dulu sabdanya bisa jadi kebijakan, elite politik sebenarnya enggak jauh berbeda dari itu. Seharusnya ada tindak lanjut dari Pak Prabowo. Elite hati-hati kalau berkata di media massa, apa lagi sekelas Pak Prabowo," kata Mada.
Sejumlah karyawan Koran Seputar Indonesia (Sindo) Biro Jawa Timur yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) berunjuk rasa di Monumen Bambu Runcing, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (2/8). Mereka menuntut hak pesangon. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Prabowo Subianto menyindir gaji wartawan saat mengikuti upacara detik-detik proklamasi di Universitas Bung Karno, Jakarta. (Detikcom/Rengga Sencaya)
Sebagai elite politik dan tokoh bangsa Indonesia, Prabowo Subianto kerap dihampiri wartawan untuk dimintakan pandangan atau pemikirannya tentang kondisi terkini. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)