Djarot Sindir Penunggak Rusun: Hidup di Jakarta Keras Bung

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Selasa, 05/09/2017 18:53 WIB
Djarot Sindir Penunggak Rusun: Hidup di Jakarta Keras Bung Pemprov DKI lagi pertimbangkan keringanan pada mereka yang benar-benar tidak mampu bayar sewa rusun. Besaran keringanan tergantung kemampuan finansial penghuni. (CNN Indonesia/Kustin Ayuwuragil).
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat menyindir para penghuni rumah susun sewa (rusunawa) yang menunggak biaya dengan alasan tidak bisa menyisakan uang karena harus menanggung biaya transportasi sehari-hari. 

Kata Djarot, hidup di ibu kota memang keras dan penuh perjuangan, sehingga banyak biaya yang harus diperhitungkan. 

"Kalau mereka sampaikan bahwa jauh tempat bekerja, kita juga banyak yang jauh tempat bekerjanya. Sekali lagi hidup di Jakarta memang butuh perjuangan ya," kata Djarot di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (5/9).
Menurut Djarot, tidak seharusnya kalangan yang mampu dalam aspek finansial mengeluh demikian. Penyewa rusunawa sudah diberi fasilitas Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Jakarta Sehat (KJS), dan juga BPJS Kesehatan.


Bahkan mereka pun tidak perlu lagi menanggung ongkos TransJakarta. Karenanya Djarot menyayangkan alasan para penunggak sewa rusun tersebut.

"Rasa syukur ini seringkali tidak dimiliki oleh sebagian saudara-saudara kita yang sengaja menunggak, padahal mereka mendapatkan fasilitas yang menurut saya sudah cukup," kata Djarot.
Djarot mengaku tengah menyiapkan langkah untuk memberi keringanan kepada mereka yang benar-benar tidak mampu untuk membayar sewa. Keringanan itu bermacam-macam tergantung kemampuan finansial si penyewa.

"Kita lihat bisa sampai 100 persen kalau umpama mereka enggak mampu," kata Djarot.

Sindiran Djarot tersebut tidak ditujukan kepada lansia yang memang tidak lagi memiliki pekerjaan dan pendapatan bulanan. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, para lansia itu akan dipindah ke panti jompo agar mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah.
Begitu pula fakir miskin. Kata Djarot, sudah kewajiban pihaknya untuk menanggung biaya hidup dan perawatan kalangan lanjut usia dan fakir miskin. 

"Karena fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara. Sedangkan yang masih mampu, jangan (nunggak) dong," lanjutnya.

Diketahui, ada 14.975 unit hunian dari 23 rusunawa yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Sebanyak 14.206 unit dari jumlah tersebut, sudah dihuni oleh warga berbagai kalangan. Baik warga umum maupun yang terkena relokasi. 

Akan tetapi, 67 persen atau 9.522 penghuni menunggak pembayaran sewa Dengan rincian, 6.514 unit dihuni warga yang terkena relokasi dan 3.008 unit dihuni warga umum.